Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak.
Udara malam gerah padahal bukan matahari.
Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang.
Bukan kulit melepuh,
hati meredup pelan.
Dada mengembang kempis,
oksigen menipis terhirup berat.
Kita kenapa?
Dulu itu dulu, sudah lama.
Senda gurau panjang menenangkan,
cerita bertukar tanpa embel-embel.
Apakah itu hilang?
Aku mencari.
Dari sudut mata kalian aku cari redup persahabatan—
ada, tapi kabur.
Dari bibirmu aku cari, tapi pengecap hambar.
Aku gamang.
Masihkah aku dan kalian saling mengenal.
Sahabat berteman seperti berai.
aku menghela napas panjang getir.
Kamu datang dengan mata nanar,
menenteng setumpuk kertas hutang yang belum terbayar.
Ya, betul.
Itu struk tagihan panjang belum lunas.
Kalian malu, katanya,
sebab aku belum juga merogoh kocek.
Lupakah kalian bahwa kalian punya rasa?
Kita sama.
Di pasar penjual kain meminta ukuran baju,
bukan ukuran orang lain.
Agar tak salah mengukur,
pakailah ukuran sendiri.
Aku belum menyerah.
Tapi sekali ini kocek belum terisi—
mungkin sepekan atau sebulan lagi.
Seperti rentenir mendesak,
enggan pulang sebelum tas penuh rupiah.
Aku ini sahabatmu.
Kita di bawah atap yang sama.
Lupakah kalian pada persajakan ini?
Malukah kalian pada kawan miskin ringkih?
Jika demikian,
tiliklah kepulan asap dapur di rumah.
Tiupannya lesu, tidak menggumpal.
Malu yang kau rasa, biar kuganti sekilo beras atau sejumput ubi.
Sampaikan kepada tuanmu: selain itu,
yang tersisa hanya segumpal rasa malu.
Rupiah yang kalian cari sungguh belum cukup.
Kawanku,
maafkan aku
telah berani berdiri di sisimu
dalam keadaan renyah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar