Kamis, 21 Mei 2026

Tunggu Sebulan


Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak.
Udara malam gerah padahal bukan matahari.
Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang.
Bukan kulit melepuh,
hati meredup pelan. 

Dada mengembang kempis, 

oksigen menipis terhirup berat.
Kita kenapa?

Dulu itu dulu, sudah lama.
Senda gurau panjang menenangkan,
cerita bertukar tanpa embel-embel.
Apakah itu hilang?

Aku mencari.
Dari sudut mata kalian aku cari redup persahabatan—
ada, tapi kabur.
Dari bibirmu aku cari, tapi pengecap hambar.

Aku gamang.
Masihkah aku dan kalian saling mengenal. 
Sahabat berteman seperti berai.


aku menghela napas panjang getir.
Kamu datang dengan mata nanar,
menenteng setumpuk kertas hutang yang belum terbayar.
Ya, betul.
Itu struk tagihan panjang belum lunas.

Kalian malu, katanya,
sebab aku belum juga merogoh kocek.
Lupakah kalian bahwa kalian punya rasa?

Kita sama.
Di pasar penjual kain meminta ukuran baju,
bukan ukuran orang lain.
Agar tak salah mengukur,
pakailah ukuran sendiri.

Aku belum menyerah.
Tapi sekali ini kocek belum terisi—
mungkin sepekan atau sebulan lagi.
Seperti rentenir mendesak,
enggan pulang sebelum tas penuh rupiah.

Aku ini sahabatmu.
Kita di bawah atap yang sama.
Lupakah kalian pada persajakan ini?
Malukah kalian pada kawan miskin ringkih?

Jika demikian,
tiliklah kepulan asap dapur di rumah.
Tiupannya lesu, tidak menggumpal.
Malu yang kau rasa, biar kuganti sekilo beras atau sejumput ubi.
Sampaikan kepada tuanmu: selain itu,
yang tersisa hanya segumpal rasa malu.

Rupiah yang kalian cari sungguh belum cukup.

Kawanku,
maafkan aku
telah berani berdiri di sisimu
dalam keadaan renyah.

Senin, 18 Mei 2026

Pattiro Deceng

 

PATTIRO DECENG

Karya: Nasruddin Natsir

                                                                                                                        

(Sebuah Dongeng dari zaman dahulu kala)

 

Di lereng sebuah bukit di Tanah nan subur, hiduplah seorang pemuda bernama  Jamalu  bersama ibunya,  Indo' Saga . Mereka tinggal di sebuah rumah panggung sederhana yang atapnya terbuat dari daun rumbia yang sudah mulai lapuk. Setiap hari Jamalu bekerja serabutan—memikul air dari sungai, menyabit rumput untuk dijual, menggali ubi di kebun orang—namun pundi-pundinya tetap kering kerontang.

Yang paling menyiksa hati Jamalu bukanlah rasa lapar, melainkan  iri. Ia iri melihat La Ugi, teman sekampungnya yang punya kebun kelapa luas dan sawah yang menguning. Ia iri kepada We Tenri, gadis sebaya yang perhiasan emasnya gemerlap setiap pergi ke pasar. Ia iri kepada hampir setiap orang yang rumahnya beratap seng atau sirap, bukan rumbia seperti miliknya.

 "Ya Puang Allah Taala, kenapa aku dilahirkan miskin? Kenapa hidupku begini-begini saja?" keluhnya suatu senja di tepi sungai, sendirian.

Kegalauan itu membawanya ke bawah pohon beringin tua—pohon keramat yang oleh warga kampung dianggap angker. Tanah di sekitarnya gersang, tidak ada burung yang berani bersarang di dahannya, dan udara di tempat itu terasa lebih dingin dibandingkan tempat lain.

Jamalu duduk termenung di pangkal akar pohon itu. Tiba-tiba, angin berputar seperti pusaran. Dari balik akar-akar pohon yang menjuntai hingga menyentuh tanah, muncullah seorang kakek. Wajahnya keriput seperti tanah kering di musim kemarau. Matanya merah samar, seperti bara yang hampir padam. Jari-jarinya panjang dengan kuku kecoklatan, dan ia memakai baju hitam lusuh. Namun yang paling mengerikan adalah senyumnya—senyum yang seolah-olah tahu semua rahasia Jamalu.

Bulu kuduk Jamalu merinding. Ia ingin lari, tetapi kakinya seperti tertanam ke tanah.

 "Magapa kamu lari? Magapa kamu takut, wahai anaku muda?"  suara kakek itu berat, seperti batu yang digesekkan satu sama lain.  (Mengapa engkau lari? Mengapa engkau takut?)

Jamalu menggigit bibir. Nafasnya kembang-kempis. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"Ka... kamu dari mana muncul tiba-tiba?" ucapnya terbata. "Apa kamu penunggu pohon beringin keramat ini?"

 "Hus... jangan takut,"  kata kakek itu sambil menyeringai.  "Aku melihatmu dari tadi gelisah. Ada apa denganmu, anaku muda?"

Jamalu mencoba menenangkan diri, namun suaranya tetap parau seperti katak kehabisan air.

"Saya memang gelisah, Kakek. Saya pusing. Hidup saya susah. Saya iri melihat orang-orang sekeliling saya yang kehidupannya penuh kenikmatan. Mereka bahagia karena memiliki harta yang banyak!"

Kakek misterius itu tertawa pecah. Suaranya terbahak-bahak, berat dan menggelegar seperti guntur jauh di langit.

 "Huahahahaha... masalahmu itu masalah kecil, anaku muda! Masalah yang sangat mudah diselesaikan. Remeh temeh!"

Jamalu ragu. Namun rasa penasaran dan hasrat akan kekayaan mengalahkan ketakutannya. Ia mendekat selangkah—masih tegang, masih merinding.

"Kakek tua renta... lihat dirimu sendiri," kata Jamalu setengah merendahkan. "Kakek tampak renta dan miskin. Kayaknya tidak punya apa-apa. Masa kakek bisa membantu saya?"

Seketika mata kakek itu menyala seperti bara api. Tatapannya tajam menusuk.

 "Jangan merendahkan, anak muda. Aku bisa membantumu... jika kamu mau."

Jamalu menelan ludahnya yang terasa pahit.

 

"Apa yang bisa kakek lakukan untuk saya, jika kakek memang benar-benar bisa membantu saya?"

Kakek itu mendesis pelan, seperti ular sanca yang siap menerkam mangsanya.

"Jika kamu mau, datanglah ke gubuk di pinggir sungai bercabang. Ikuti aliran sungai pinggir pohon beringin ini. Setengah hari perjalanan, kamu akan sampai di sana. Di gubuk itulah aku menunggumu."

Sebelum Jamalu sempat bertanya lebih lanjut, kakek itu lenyap seperti kabut yang diterpa angin timur. Yang tersisa hanyalah wangi dupa aneh dan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Jamalu pulang ke rumahnya dalam keadaan pucat pasi. Indo' Saga yang sedang menumbuk cabai di dapur belakang rumah panggung langsung curiga melihat wajah anak semata wayangnya.

"Nak Jamalu, kamu pucat sekali. Dari mana saja kamu?" tanya Indo' Saga dengan logat yang khas.

Jamalu menceritakan semua yang baru saja dialaminya. Wajah Indo' Saga berubah keras. Tangannya yang sedang menumbuk cabai berhenti. Ia meletakkan ulekan batu dan duduk di depan anaknya.

"Nak Jamalu, dengar baik-baik nasihat indo'mu," kata Indo' Saga dengan suara berat. "Hati-hati dalam berguru. Jangan mudah percaya kepada orang baru yang baru kamu kenal, apalagi jika orang itu tiba-tiba bersikap baik kepadamu."

"Tapi, Ma..." Jamalu mencoba memotong.

"Diam dulu, Nak, biar indo' selesaikan," potong Indo' Saga tegas. "Sudah banyak kejadian di kampung Bugis ini. Orang-orang yang tergiur janji kekayaan dari orang tak dikenal—bukannya menjadi kaya, malah hidupnya sengsara. Karena salah berguru, ada yang berubah menjadi ngepet . Ada yang menjadi  siluman . Ada yang menjadi  parakang  seperti yang sering diceritakan para orang tua terdahulu kampung kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan keluarganya sendiri sebagai tumbal. Jangan, Nak. Harta bukanlah ukuran bahagia. Semakin engkau bersyukur kepada Puang Allah Taala, semakin engkau bahagia. Jangan iri pada kehidupan orang lain!"

Jamalu hanya terdiam. Ia menunduk, tidak berani membantah. Namun dalam hatinya, bara iri itu belum padam. Malah semakin membara.

Keesokan paginya, sebelum matahari terbit dari ufuk timur, Jamalu pergi tanpa pamit kepada ibunya. Ia kembali ke bawah pohon beringin keramat itu, lalu menyusuri sungai di sampingnya. Air sungai itu keruh dan dingin, dedaunan di tepinya tampak layu meskipun saat itu bukan musim kemarau.

Setengah hari perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki menembus semak belukar dan hutan bambu. Akhirnya tibalah ia di percabangan sungai. Di tepi percabangan itu, berdiri sebuah gubuk bambu yang sudah reot. Tidak ada jendela, beratap daun kelapa yang sudah hitam dan berlubang-lubang. Gubuk itu tampak angker dan menyendiri di tengah hutan yang lebat.

Jamalu mendekati gubuk itu dengan langkah gontai. Belum sempat tangannya mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk, suara dari dalam membuat bulu kuduknya berdiri.

"Masuklah, anaku muda... jangan takut. Sudah takdirmu sampai di sini. Aku sudah lama menunggumu."

Jamalu menarik napas panjang, lalu mendorong pintu gubuk itu. Di dalam, gubuk itu gelap, hanya diterangi satu lampu pelita yang menyala redup. Kakek misterius itu duduk bersila di atas tikar anyaman pandan yang sudah usang. Matanya berbinar senang, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.

Kakek itu menunjuk ke sebuah bilik kecil di sudut ruangan.

"Masuk ke dalam bilik itu,"  perintahnya.

"Mengapa saya harus masuk ke bilik itu, Kakek?" tanya Jamalu dengan suara setengah bergetar.

Kakek itu tersenyum, namun matanya tetap dingin dan tidak ikut tersenyum.

"Kesepakatan hari ini adalah: kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan. Jangan pernah menolak. Jangan pernah bertanya. Kamu sudah tidak bisa mundur lagi."

Jamalu ragu-ragu. Namun kakinya seperti didorong oleh angin gaib. Ia masuk ke dalam bilik kecil itu.

Begitu masuk ke dalam bilik, Jamalu terkejut setengah mati. Di lantai tanah yang lembap, terhampar berbagai macam kembang setaman: mawar merah, kenanga, kantil, melati putih, dan sedap malam. Di tengah-tengah rangkaian kembang itu, terdapat nasi ketan tujuh warna tersusun rapih dalam tapis anyaman.

"Duduklah di antara kembang dan ketan itu,"  perintah kakek dari balik dinding bilik.  "Pejamkan matamu. Jangan bergerak. Nanti aku beri instruksi."

Kakek itu mendesis tertawa pelan.

"Ssst... jangan banyak gerak, anaku muda."

Jamalu mendengar suara korek api digoreskan. Lalu bau dupa yang menusuk hidung mulai menyesak masuk ke rongga hidungnya. Asap mengepul keluar dari celah-celah dinding bambu. Kakek itu mulai duduk bersimpuh dan membaca mantera-mantera dengan suara parau sambil menaburkan bunga ke atas dupa yang penuh asap.

Suasana menjadi sunyi begitu pekat. Hening. Senyap. Hingga Jamalu hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang.

Tiba-tiba, dari balik dinding kamar tempatnya duduk, terdengar suara lain. Bukan suara kakek tua itu. Suara itu serak dan berat, seolah keluar dari dalam tanah.

"Wahai anaku muda... bukalah matamu."

Jamalu mengerjapkan mata.

"Iya, Kakek, saya sudah membuka mata saya. Apa yang selanjutnya harus saya lakukan?" tanyanya.

"Tatap dinding depanmu. Apa yang kamu lihat? Ceritakan!"  perintah suara itu.

"Saya hanya melihat dinding kamar yang usang, Kakek. Tidak ada apa-apa," jawab Jamalu polos.

Kakek itu tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar dingin dan menyebalkan.

 "Pejamkan kembali matamu. Dan ikuti mantera ku."

Kemudian kakek itu membaca mantera pelan dalam bahasa Bugis kuno, dan Jamalu mengikutinya kata demi kata:

  "Kita pakkitakku, sitarru lattu ati,

   sitarru bulawang na salaka,

  sugi sugi polemaki mai ku karipiko..."

 

Tubuh Jamalu bergetar hebat. Dadanya sesak. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap masuk ke ubun-ubun kepalanya, menjalar ke seluruh tubuh, lalu bersarang di dalam dadanya.

 "Jamalu... sekarang buka matamu. Apa yang engkau lihat?"  desak suara itu.

 Jamalu membuka matanya perlahan. Tiba-tiba ia menjerit kecil.

 "Ka... Kakek! Saya bisa melihatmu! Saya bisa menembus dinding ini!"

 Kakek itu tertawa puas. Namun Jamalu belum selesai.

 "Apa lagi yang kau lihat?" tanya kakek cepat.

"Sa... saya bisa melihat jantung dan hatimu, Kakek tua!" suara Jamalu bergetar hebat. "Jantungmu... hitam seperti arang! Dan di dalam hatimu... ada puluhan wajah yang menjerit!     Wajah-wajah yang ketakutan!"

 Saat itulah kakek tua itu pecah tertawa. Ia tertawa puas, puas sekali.

 "Huahahahaha... manteramu telah menyatu dengan dirimu, wahai Jamalu! Sekarang tunggulah... kekayaan akan menghampirimu. Kamu akan menjadi sangat kaya raya. Tidak lama lagi!"

 Jamalu pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk—antara takut, senang, dan penasaran. Ia tidak menceritakan detail ritual itu kepada Indo' Saga. Ia hanya diam.

 Setahun berlalu. Kehidupan Jamalu berubah drastis. Tiba-tiba ia memiliki uang berlimpah. Sawah, kebun kelapa, kerbau, emas, perhiasan yang indah, semua ada. Bahkan ia mampu memperbaiki rumah panggung ibunya menjadi rumah kayu ulin yang kokoh. Indo' Saga heran dan bertanya berkali-kali, namun Jamalu selalu mengelak.

 "Syukur saja, Ma. Jamalu sedang beruntung. Rezeki datang dari mana-mana," jawabnya selalu begitu.

 

Namun ada yang aneh dari diri Jamalu. Setiap malam purnama, ia tidak bisa tidur. Matanya berubah merah menyala seperti bara. Air liurnya sering meleleh tanpa disadari hingga membasahi bajunya. Ia lebih suka menyendiri dan baunya... baunya menjadi anyir seperti darah.

Indo' Saga semakin hari semakin khawatir. Hatinya tidak tenang. Setiap malam ia membakar kemenyan sambil berdoa kepada Puang Allah Taala.

Suatu malam, di awal bulan purnama, Jamalu yang sedang duduk di beranda rumah mencium bau yang sangat harum. Wangi nangka masak. Wangi yang sangat mengundang selera. Wangi yang membuat lidahnya bergoyang dan air liurnya mengucur deras hingga membasahi bajunya.

Jamalu berjalan terpana. Kaki-kakinya melangkah cepat tanpa arah yang jelas. Ia melewati kebun, melewati kuburan tua kampung, melewati semak belukar, sampai akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah panggung kayu. Di bawah rumah itu—tepat di kolong—ada sesuatu yang harum sekali.

Jamalu merangkak masuk ke kolong rumah itu. Matanya merah menyala. Air liurnya terus menetes ke tanah. Ia menggapai-gapai di dalam gelap, mencari sumber wangi yang sangat ia dambakan.

 

Tiba-tiba...

 

 "TOLOOOOOONG!"

Teriakan seorang perempuan memecah sunyi malam Bugis yang dingin.

"TOLONG! TOLONG! ADA MATA MERAH! ADA PARAKANG! DIA MAU MENculik ANAKKU!"

Warga kampung yang mendengar teriakan itu berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Mereka membawa obor dari batok kelapa, parang, dan tombak bambu. Seorang ibu muda bernama   Sappe berdiri di teras rumah panggungnya sambil menggendong bayinya yang menangis histeris. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat seperti kapas.

 

"Ada apa, Sappe?" tanya seorang tetua kampung.

 

"Ada parakang, Puang!" jawab   Sappe terisak-isak. "Dia ada di bawah rumah saya! Saya melihat matanya merah menyala! Dia mengendus-endus bayi saya!"

Seketika warga mengepung rumah panggung itu. Mereka memeriksa kolong rumah dengan obor dan parang terhunus dan di bawah sana, mereka menemukan Jamalu.

Matanya merah menyala. Air liurnya membasahi seluruh dada dan bajunya yang kumal. Ia menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang meraba sesuatu.

"Itu... itu parakang!" teriak salah seorang warga.

"Bukan! Saya bukan parakang!" Jamalu berteriak ketakutan. "Magapa kamu kasa padaku?!"  (Mengapa kalian menuduhku?)

Namun warga tidak peduli. Mereka menarik Jamalu keluar dari kolong rumah dan mengikatnya dengan tali yang dibuat dari akar kayu Baluttete.

"Kenapa kalian mengikat saya?! Lepaskan! Ada apa ini?!" Jamalu meronta-ronta.

"Kamu parakang, Jamalu!" teriak seorang warga.

"Saya bukan parakang!"

 

"Matamu merah! Liurmu meleleh membasahi badanmu! Kenapa kamu bisa berada di kolong rumah   Sappe jam segini malam?!" tanya warga lainnya siap dengan parangnya.

Jamalu menggigil. "Saya... saya hanya ingin mengambil nangka masak itu! Aromanya wangi sekali! Sangat menggugah selera makan!"

Semua warga yang mendengar perkataan Jamalu terdiam seketika. Suasana menjadi sunyi senyap. Hanya suara jangkrik dan detak jantung mereka yang terdengar.

Kemudian seorang tetua kampung—La Patau—berbicara dengan suara lirih namun tegas.

"Jamalu... di rumah   Sappe tidak ada pohon nangka. Yang ada... bayinya yang perempuan, yang baru saja dilahirkan tiga hari yang lalu."

Wajah Jamalu berubah biru. Ia terdiam. Air liurnya berhenti menetes. Matanya yang merah perlahan-lahan berubah menjadi sayu dan penuh ketakutan.

"Itu bukan nangka, Jamalu," lanjut Puang Pajaga. "Itu bayi manusia. Karena engkau salah berguru... engkau sudah berubah menjadi  parakang ."

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Jamalu lirih.

 

"Sudah banyak kejadian seperti ini di kampung kita," kata Puang Pajaga menghela napas. "Dulu ada pemuda yang serakah dan berguru kepada jin jahanam. Akhirnya ia jadi  babi ngepet . Ada pula yang jadi  parakang  sepertimu sekarang. Mereka yang sudah terjebak pesugihan sesat, tidak bisa lagi hidup normal. Mereka akan terus lapar... tidak lapar nasi, tetapi lapar terhadap bayi yang baru dilahirkan."

Jamalu lemas. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang kotor.

Malam itu juga, warga kampung memutuskan untuk menghukum Jamalu. Mereka tidak tega membunuhnya karena ia masih manusia, tapi mereka juga tidak bisa membiarkannya tinggal di kampung. Mereka memberinya bekal sedikit, sepotong kain sarung, dan menyuruhnya pergi ke hutan, jauh dari permukiman.

Di kejauhan, Indo' Saga—ibunda Jamalu—menangis sejadi-jadinya di depan pintu rumah panggungnya. Ia tidak ikut mengepung, karena hatinya terlalu hancur. Ia hanya duduk di lantai sambil memegang sesajen dan kemenyan yang sudah siap ia bakar.

"Jamalu... anakku sayang..." isaknya tertahan. "Indo' sudah bilang... hati-hati dalam mencari guru... tapi engkau tetap pergi... oh, Puang Allah Taala, ampunilah anakku..."

Jamalu, yang mendengar isak tangis ibunya dari kejauhan, berhenti melangkah. Ia ingin berlari kembali, ingin memeluk Indo' Saga, tapi kakinya seperti tertahan oleh rasa malu yang begitu besar.

"Aku akan membuat perhitungan dengan kakek peot itu," desis Jamalu dalam hati. "Dia yang telah membohongiku. Dia yang telah menjerumuskanku."

Ia pun berbalik dan berjalan cepat menuju gubuk di tepi sungai bercabang. Namun sesampainya di sana, Jamalu terkejut. Gubuk itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya tumpukan bambu lapuk dan daun kelapa kering yang berserakan di tanah.

Di tengah tumpukan itu, Jamalu menemukan sebuah tengkorak manusia. Tengkorak tua dengan keriput seperti tanah kering—sama seperti wajah kakek yang dulu menemuinya.

Jamalu menjerit histeris. Ia baru sadar bahwa dirinya hanyalah tumbal dari sekian banyak korban pesugihan sesat. Kakek tua itu bukanlah manusia. Ia adalah  jin jahanam  yang telah ribuan tahun memangsa orang-orang serakah di Tanah ini.

Dengan hati remuk redam, Jamalu berjalan meninggalkan kampung halamannya untuk selama-lamanya. Ia pergi ke tengah hutan, menjauhi manusia, dan tidak pernah kembali lagi. Warga kampung kadang masih mendengar suara tangisan di malam purnama, berasal dari arah sungai bercabang. Mereka percaya itu adalah suara Jamalu yang selamanya tersesat akibat keserakahannya.

Ibu tua Indo' Saga tinggal sendirian di rumah panggungnya. Setiap malam ia membakar kemenyan dan berdoa kepada Puang Allah Taala agar dosa anaknya diampuni. Dan setiap kali ada pemuda Bugis yang mengeluh tentang kemiskinannya, Indo' Saga selalu berpesan dengan air mata:

 

"Anakku, jangan pernah menjual jiwamu hanya untuk harta. Harta bisa dicari, tapi jiwa yang rusak tidak akan pernah bisa disembuhkan selamanya. Ingatlah pepatah Bugis kita: 'Rekko taro ada taro tongeng, rekko taro gau' taro lempuk'—jika berkata, katakan yang benar, jika berbuat, buatlah yang lurus. Jangan engkau mengambil jalan pintas yang berliku-liku gelap, karena di ujungnya hanya ada neraka."

Tamat.

 

---

 

 Pesan moral:

 

Anakku dari Tanah Bugis yang pemberani, janganlah engkau iri pada kehidupan orang lain. Bersyukurlah atas apa yang kau miliki, karena syukur adalah pangkal kekayaan yang sejati. Ingatlah, tidak ada kekayaan yang pantas dibeli dengan nyawa, kehormatan, dan keselamatan keluargamu. Jika ada orang yang menjanjikan harta dengan jalan pintas yang aneh dan menyeramkan, jauhilah ia segera, karena di balik senyumnya mungkin bersembunyi parakang yang siap menjadikanmu tumbal.

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...