Kamis, 13 November 2025

Sebaris Rasa dari Ayah

 Ping!

Notifikasi di ponselku menyala. Sebuah chat dari Alif.

"Ayah, aku nggak kuat lagi. Uang jajan hilang lagi. Baju olahraga yang barusan Ibu belikan juga raib dari lemari. Aku mau pindah sekolah. Sekarang."

Jari-jemariku mengetik cepat, meski hati berat. Dari balik jendela hotel di Makassar, aku melihat kota yang tak pernah tidur. Pikiranku justru melayang ke anakku yang sedang terpuruk di kamar asrama, ratusan kilometer jauhnya.

"Alif, tenang dulu, Nak. Jangan gegabah. Ayah lagi di Makassar, baru pulang seminggu lagi. Tahan dulu, ya. Fokuskan pikiran untuk persiapan ujian sekolahmu. Urusan pindah atau tidak, kita bicara baik-baik nanti setelah ujian usai. Percayalah pada Ayah, setiap masalah ada jalannya."

Aku menambahkan emoticon pelukan. Tidak ada balasan. Hanya status "read" yang terpampang. Aku tahu, anak sulungku itu sedang berjuang antara marah, kecewa, dan lelah.


***

Dua minggu kemudian, aku akhirnya bisa menjemput mereka. Zaid, si sulung yang paling kalem, langsung mengambil tasnya dan masuk ke mobil. Alif duduk di sampingku, wajahnya masih mendung. Meydina yang duduk di belakang, dengan khasnya, langsung bercerita tentang pertandingan bulu tangkisnya. Patih, si bungsu, asyik sendiri dengan game di ponselnya.

Sesampainya di rumah, setelah istirahat sejenak, kuajak keempat anakku ke bukit di pinggir kota. Saat Zaid, Meydina, dan Patih asyik mengejar kupu-kupu di antara semak, aku duduk di sebelah Alif di atas sebuah batu besar.

"Ayah baca laporan sekolahmu. Nilai-nilaimu tetap bagus, meski sedang banyak masalah. Itu hebat," bukaku.

Dia hanya menghela napas. "Lantas apa artinya, Yah? Prestasi itu nggak membuat bajuku nggak hilang, atau membuat Bu Asma mengambil tindakan."

Aku memungut sebatang ranting kering dan dengan mudah mematahkannya. "Ini seperti semangat yang sudah kering, Nak. Rapuh. Mudah patah oleh masalah."

Lalu aku menunjuk ke batu besar yang kami duduki. "Ini keras, tak tergoyahkan. Tapi apakah ini kuat?"

Meydina yang mendekat, berseru, "Kuat, Yah!"

"Tidak sepenuhnya, Dina," ujarku. "Batu ini hanya diam. Dia tidak bisa bertumbuh."

Kemudian, kubimbing mereka ke sebatang pohon beringin tua. Akarnya mencengkeram kuat pada tebing batu, membelit, mencari celah, sementara dahannya menjulang tinggi dengan penuh kebanggaan.

"Inilah ketangguhan yang sesungguhnya, Anak-anakku," kataku, suara ku mencoba menembus kebisingan di pikiran Alif. "Dia tidak melawan batu dengan mencoba menghancurkannya. Dia menjadikan batu itu sebagai *landasan* untuk berdiri lebih kokoh. Setiap celah adalah kesempatan bagi akarnya untuk mencengkeram lebih dalam. Badai datang, dia mungkin bergoyang, tapi tidak pernah tumbang. Inilah yang disebut *resilience*."

Ayah menatap Alif lekat-lekat. "Kau, Alif, sedang menghadapi 'batu'-mu. Ketidakadilan dan ketidakpedulian adalah kebrutalan duniamu saat ini. Kau bisa patah seperti ranting, atau mengeras dan pahit seperti batu. Atau…," tangannya menepuk-nepuk kulit beringin yang kasar itu, "kau bisa belajar darinya. Masalah ini adalah celah-celah di batu karang hidupmu. Gunakan untuk memperdalam akarmu—akarmu sebagai calon pemimpin, akarmu sebagai pribadi yang tangguh."

"Tapi aku sudah mencoba, Yah. Aku sudah melapor."

"Pertanyaannya, Alif, apakah kamu sudah menggunakan semua 'akar' yang kamu punya? Seorang visioner tidak hanya melihat masalah, tapi melihat *sistem* di balik masalah. Dia tidak hanya mengeluh tentang bajunya yang hilang, tapi membayangkan sistem keamanan asrama yang lebih baik. Kebrutalan seringkali hanya bisa dilawan dengan strategi yang lebih cerdas dan visi yang lebih jernih."

Pulang dari bukit, raut wajah Alif sudah tidak semuram tadi. Aku tahu dia sedang mencerna.

Kembali ke asrama setelah liburan, Alif mengumpulkan para pengurus MPK. Alih-alih berfokus pada hilangnya barang-barangnya, mereka merancang sebuah proposal yang diberi judul "Proyek Ketahanan Asrama". Mereka usulkan sistem laporan online anonim, jadwal piket pengurus MPK untuk patroli lorong, dan petisi untuk peninjauan ulang tata tertib keamanan asrama. Mereka membingkai ini bukan sebagai protes, melainkan sebagai inisiatif positif untuk kebaikan bersama.

Bu Asma terlihat terkejut sekaligus kagum. Kepala Sekolah memberi mereka kesempatan untuk mempresentasikan ide mereka.

Bajunya yang hilang tidak pernah kembali. Tapi sesuatu yang lebih penting telah tumbuh. Sebagian besar proposal mereka disetujui. Suasana asrama perlahan mulai berubah.

Saat kami berbicara setelah ujian, Alif berkata, "Ayah, untuk saat ini aku ingin tetap di sekolah ini."

Aku tersenyum. Masalah dan kebrutalan itu nyata, seperti batu yang keras. Tapi anakku telah memilih untuk tidak menjadi ranting yang patah, atau batu yang diam. Dia memilih untuk menjadi beringin, yang menjadikan setiap batu sebagai pijakan untuk menjulang lebih tinggi. Dan sebagai seorang ayah, tak ada kebanggaan yang lebih besar dari menyaksikan anaknya belajar untuk bertahan, lalu mulai bertumbuh.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...