Kemarin 'ku dengar kabar dari jauh,
Katanya matamu
masih sembab,
Ujung lesung dagu masih mengalir air mata hangat.
Mengapa begitu?
Bukankah telah
berlalu bulan separuh semangka,
Purnama yang kau
tunggu sudah membulat.
Bukankah wajah itu
terlihat indah tanpa air mata?
Apakah mata mu
tidak perih menahan saraf terus menegang?
bagaimana jika kau
nikmati saja purnama itu.
...
Hatimu butuh ruang
untuk mengalirkan beku biar terarak menuju aliran.
Kemarin aku dengar pada senja kamu meninggi.
Jantungmu berdegup
kencang.
Marahkah engkau
pada senja?
-
Entah bagaiamana kau seperti itu.
Tatapan sejuk
hangat tetiba hanguskan purnama.
Dari sini jernih kabar terdengar,
tapi aneh pikiran belum juga bertanya,
bahkan gemah dari
hati senyap tanpa warna.
Ruang manjadi
hampa.
Aku pikir langit
bulan November menghapus jejak retak pada bumi.
_ meski lebat tanpa aliran,_
_ ternyata Purnama tanpa terang_

Tidak ada komentar:
Posting Komentar