Minggu, 30 November 2025

Purnama Tanpa Terang






Kemarin 'ku dengar kabar dari jauh,

Katanya matamu masih sembab,

Ujung lesung dagu masih mengalir air mata hangat.

 

Mengapa begitu?

Bukankah telah berlalu bulan separuh semangka,

Purnama yang kau tunggu sudah membulat.

 

Bukankah wajah itu terlihat indah tanpa air mata?

Apakah mata mu tidak perih menahan saraf terus menegang?

bagaimana jika kau nikmati saja purnama itu.

...

Hatimu butuh ruang untuk mengalirkan beku biar terarak menuju aliran.

 

Kemarin aku dengar pada senja kamu meninggi.

Jantungmu berdegup kencang.


Marahkah engkau pada senja?

-

Entah bagaiamana kau seperti itu.

Tatapan sejuk hangat tetiba hanguskan purnama.

 

Dari sini jernih kabar terdengar,

tapi aneh pikiran belum juga bertanya,

bahkan gemah dari hati senyap tanpa warna.

Ruang manjadi hampa.

 

Aku pikir langit bulan November menghapus jejak retak pada bumi.

_ meski lebat tanpa aliran,_

_ ternyata Purnama tanpa terang_

 

 

 

 

 

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...