Minggu, 30 November 2025

Purnama Tanpa Terang






Kemarin 'ku dengar kabar dari jauh,

Katanya matamu masih sembab,

Ujung lesung dagu masih mengalir air mata hangat.

 

Mengapa begitu?

Bukankah telah berlalu bulan separuh semangka,

Purnama yang kau tunggu sudah membulat.

 

Bukankah wajah itu terlihat indah tanpa air mata?

Apakah mata mu tidak perih menahan saraf terus menegang?

bagaimana jika kau nikmati saja purnama itu.

...

Hatimu butuh ruang untuk mengalirkan beku biar terarak menuju aliran.

 

Kemarin aku dengar pada senja kamu meninggi.

Jantungmu berdegup kencang.


Marahkah engkau pada senja?

-

Entah bagaiamana kau seperti itu.

Tatapan sejuk hangat tetiba hanguskan purnama.

 

Dari sini jernih kabar terdengar,

tapi aneh pikiran belum juga bertanya,

bahkan gemah dari hati senyap tanpa warna.

Ruang manjadi hampa.

 

Aku pikir langit bulan November menghapus jejak retak pada bumi.

_ meski lebat tanpa aliran,_

_ ternyata Purnama tanpa terang_

 

 

 

 

 

 


Kamis, 13 November 2025

Sebaris Rasa dari Ayah

 Ping!

Notifikasi di ponselku menyala. Sebuah chat dari Alif.

"Ayah, aku nggak kuat lagi. Uang jajan hilang lagi. Baju olahraga yang barusan Ibu belikan juga raib dari lemari. Aku mau pindah sekolah. Sekarang."

Jari-jemariku mengetik cepat, meski hati berat. Dari balik jendela hotel di Makassar, aku melihat kota yang tak pernah tidur. Pikiranku justru melayang ke anakku yang sedang terpuruk di kamar asrama, ratusan kilometer jauhnya.

"Alif, tenang dulu, Nak. Jangan gegabah. Ayah lagi di Makassar, baru pulang seminggu lagi. Tahan dulu, ya. Fokuskan pikiran untuk persiapan ujian sekolahmu. Urusan pindah atau tidak, kita bicara baik-baik nanti setelah ujian usai. Percayalah pada Ayah, setiap masalah ada jalannya."

Aku menambahkan emoticon pelukan. Tidak ada balasan. Hanya status "read" yang terpampang. Aku tahu, anak sulungku itu sedang berjuang antara marah, kecewa, dan lelah.


***

Dua minggu kemudian, aku akhirnya bisa menjemput mereka. Zaid, si sulung yang paling kalem, langsung mengambil tasnya dan masuk ke mobil. Alif duduk di sampingku, wajahnya masih mendung. Meydina yang duduk di belakang, dengan khasnya, langsung bercerita tentang pertandingan bulu tangkisnya. Patih, si bungsu, asyik sendiri dengan game di ponselnya.

Sesampainya di rumah, setelah istirahat sejenak, kuajak keempat anakku ke bukit di pinggir kota. Saat Zaid, Meydina, dan Patih asyik mengejar kupu-kupu di antara semak, aku duduk di sebelah Alif di atas sebuah batu besar.

"Ayah baca laporan sekolahmu. Nilai-nilaimu tetap bagus, meski sedang banyak masalah. Itu hebat," bukaku.

Dia hanya menghela napas. "Lantas apa artinya, Yah? Prestasi itu nggak membuat bajuku nggak hilang, atau membuat Bu Asma mengambil tindakan."

Aku memungut sebatang ranting kering dan dengan mudah mematahkannya. "Ini seperti semangat yang sudah kering, Nak. Rapuh. Mudah patah oleh masalah."

Lalu aku menunjuk ke batu besar yang kami duduki. "Ini keras, tak tergoyahkan. Tapi apakah ini kuat?"

Meydina yang mendekat, berseru, "Kuat, Yah!"

"Tidak sepenuhnya, Dina," ujarku. "Batu ini hanya diam. Dia tidak bisa bertumbuh."

Kemudian, kubimbing mereka ke sebatang pohon beringin tua. Akarnya mencengkeram kuat pada tebing batu, membelit, mencari celah, sementara dahannya menjulang tinggi dengan penuh kebanggaan.

"Inilah ketangguhan yang sesungguhnya, Anak-anakku," kataku, suara ku mencoba menembus kebisingan di pikiran Alif. "Dia tidak melawan batu dengan mencoba menghancurkannya. Dia menjadikan batu itu sebagai *landasan* untuk berdiri lebih kokoh. Setiap celah adalah kesempatan bagi akarnya untuk mencengkeram lebih dalam. Badai datang, dia mungkin bergoyang, tapi tidak pernah tumbang. Inilah yang disebut *resilience*."

Ayah menatap Alif lekat-lekat. "Kau, Alif, sedang menghadapi 'batu'-mu. Ketidakadilan dan ketidakpedulian adalah kebrutalan duniamu saat ini. Kau bisa patah seperti ranting, atau mengeras dan pahit seperti batu. Atau…," tangannya menepuk-nepuk kulit beringin yang kasar itu, "kau bisa belajar darinya. Masalah ini adalah celah-celah di batu karang hidupmu. Gunakan untuk memperdalam akarmu—akarmu sebagai calon pemimpin, akarmu sebagai pribadi yang tangguh."

"Tapi aku sudah mencoba, Yah. Aku sudah melapor."

"Pertanyaannya, Alif, apakah kamu sudah menggunakan semua 'akar' yang kamu punya? Seorang visioner tidak hanya melihat masalah, tapi melihat *sistem* di balik masalah. Dia tidak hanya mengeluh tentang bajunya yang hilang, tapi membayangkan sistem keamanan asrama yang lebih baik. Kebrutalan seringkali hanya bisa dilawan dengan strategi yang lebih cerdas dan visi yang lebih jernih."

Pulang dari bukit, raut wajah Alif sudah tidak semuram tadi. Aku tahu dia sedang mencerna.

Kembali ke asrama setelah liburan, Alif mengumpulkan para pengurus MPK. Alih-alih berfokus pada hilangnya barang-barangnya, mereka merancang sebuah proposal yang diberi judul "Proyek Ketahanan Asrama". Mereka usulkan sistem laporan online anonim, jadwal piket pengurus MPK untuk patroli lorong, dan petisi untuk peninjauan ulang tata tertib keamanan asrama. Mereka membingkai ini bukan sebagai protes, melainkan sebagai inisiatif positif untuk kebaikan bersama.

Bu Asma terlihat terkejut sekaligus kagum. Kepala Sekolah memberi mereka kesempatan untuk mempresentasikan ide mereka.

Bajunya yang hilang tidak pernah kembali. Tapi sesuatu yang lebih penting telah tumbuh. Sebagian besar proposal mereka disetujui. Suasana asrama perlahan mulai berubah.

Saat kami berbicara setelah ujian, Alif berkata, "Ayah, untuk saat ini aku ingin tetap di sekolah ini."

Aku tersenyum. Masalah dan kebrutalan itu nyata, seperti batu yang keras. Tapi anakku telah memilih untuk tidak menjadi ranting yang patah, atau batu yang diam. Dia memilih untuk menjadi beringin, yang menjadikan setiap batu sebagai pijakan untuk menjulang lebih tinggi. Dan sebagai seorang ayah, tak ada kebanggaan yang lebih besar dari menyaksikan anaknya belajar untuk bertahan, lalu mulai bertumbuh.

Selasa, 11 November 2025

Bukan Tentang Itu

Kantor lantai sembilan itu memiliki pemandangan megah, tapi bagi Jay, pemandangan itu sering kali tertutup oleh kekecewaan. Setiap Senin pagi, ritual yang sama terulang: masuk ke ruang konferensi kecil "Amaryllis" yang seharusnya bersih dan siap pakai, hanya untuk menemukan jejak kekacauan dari akhir pekan.


Hari ini, ada noda kopi mengering seperti danau kering di atas meja mahoni. Remah-remah kue berserakan di karpet, dan aroma parfum murah yang menyengat masih menggantung di udara. Jay menghela napas. Ini sudah kali ketiga bulan ini.


Pelakunya selalu sama: Cleopatra dan tim "khusus"-nya. Cleopatra, bukanlah ratu Mesir, tapi seorang manajer dengan gaun kerja yang selalu necis dan senyum yang terlalu manis untuk diyakini. Jabatannya satu tingkat di atas Jay, cukup untuk membuatnya merasa berkuasa.


Jay bukan pemberani. Tapi nilai-nilai ketertiban dan rasa hormat berteriak dalam jiwanya. Setelah memberanikan diri, dengan hati berdebar-debar, ia mengetuk pintu kantor Cleopatra.


"Cleo, ada waktu sebentar?" tanyanya, mencoba membuat suaranya terdengar santai.


Cleopatra mengangkat alis, senyum manisnya terpasang. "Untukmu, Jay, selalu ada waktu."


Jay menjelaskan, dengan kata-kata yang ia pilih hati-hati, tentang kekhawatirannya akan kebersihan ruang Amaryllis. "Bisa saja, tim Cleo mengingatkan untuk membereskannya setelah pakai? Agar ruangan selalu nyaman untuk kita semua."


Senyum Cleopatra tidak sirna, tapi matanya yang berbinar tiba-tiba menjadi dingin, seperti danau yang membeku dalam sekejap. "Oh, Jay, maafkan kami yang ceroboh. Tim saya memang sangat sibuk dengan proyek prioritas. Tapi pesanmu saya terima. Terima kasih atas *masukannya*." Kata "masukan" itu diucapkan dengan nada yang membuat Jay merasa kecil.


Jay pulang dengan perasaan campur aduk. Pekerjaan baik telah dilakukan, pikirnya.


Keesokan harinya, ia dipanggil ke ruang bos besar, Pak Handoko. Dadanya sesak. Di sana, duduklah Pak Handoko dengan wajah serius, dan di sampingnya, Cleopatra dengan ekspresi prihatin yang sempurna.


"Jay," kata Pak Handoko, "Cleopatra melaporkan bahwa kamu (sepertinya) menunjukkan sikap tidak hormat dan mencoba mengatur cara kerja timnya di ruang meeting. Dia merasa kamu tidak memahami tekanan dan dinamika timnya."


Dunia Jay berputar. Protesnya yang sederhana tentang sekelumit sampah telah dibelokkan menjadi tuduhan tentang ketidakhormatan dan sikap yang tidak kooperatif. Cleopatra, dengan lancar, memutarbalikkan fakta. Dia tidak sekaligus menyebutkan noda kopi atau remah-remah. Yang dia soroti adalah "sikap" Jay.


"Bukan itu maksud saya, Pak," bela Jay, suaranya gemetar. "Saya hanya meminta kebersihan dijaga."


"Tentu, kebersihan itu penting, Jay," ujar Pak Handoko dengan nada menenangkan. "Tapi perhatikan juga cara menyampaikannya. Kita harus bekerja sebagai satu tim."


Pertemuan itu berakhir dengan Jay merasa dipermalukan dan dikalahkan. Cleopatra melemparkan senyum kemenangan yang samar sebelum keluar.


Beberapa hari berlalu. Jay merasa seperti dikucilkan. Semangatnya runtuh. Suatu sore, ketika ia membersihkan meja kerjanya, matanya tertumbuk pada sebuah laporan yang tertinggal di printer—laporan tim Cleopatra. Dan di sana, dengan tinta yang masih segar, tercantum data yang ia tahu persis telah dimanipulasi.


Dia teringat pada jejak kopi di atas meja mahoni. Jejak yang ditinggalkan oleh orang yang begitu teliti menutupi kesalahan besarnya, tetapi begitu ceroboh dengan kesalahan kecil orang lain.


Pada saat itu, amarah di dada Jay mereda, digantikan oleh sebuah pencerahan yang dingin. Cleopatra bukanlah monster yang perkasa. Dia hanya seorang yang takut, takut pada kritik sekecil apa pun karena istananya dibangun dari kertas yang rapuh.


Keesokan paginya, Jay tidak lagi marah. Dia memasuki ruang Amaryllis—yang sekali lagi berantakan—dengan perasaan tenang. Dia membersihkan noda itu sendiri, bukan sebagai tanda menyerah, tapi sebagai pengingat untuk dirinya sendiri.


Dia menyadari, pertempuran yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang meninggalkan sampah, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga integritasnya tetap bersih. Dan suatu hari nanti, istana kertas Cleopatra akan roboh dengan sendirinya. Sampai saat itu tiba, Jay akan terus bekerja, tetap bersih, dan waspada. Perlawanannya bukan lagi dengan protes yang berisiko, tapi dengan ketekunan dan ketidakmungkinan untuk dibungkam secara diam-diam.


Dia akan menunggu. Karena kadang, keheningan dan kesabaran adalah protes yang paling menggema.

Sabtu, 01 November 2025

Entah Siapa yang Hilang

langit senja membara, menyiram warna jingga dan ungu ke atas jalanan yang basah oleh hujan sore. Niza berdiri di bawah kanopi kafe tua itu, tempat di mana segala sesuatu bermula, dan mungkin juga tempat di mana segalanya akan berakhir. Di tangannya, segelas cappuccino hangat sudah berubah dingin, persis seperti rasa di dadanya.

Matanya tertuju pada seorang perempuan di seberang jalan. Rambut hitam sebahu, tubuh ramping terbungkus jas trench coat biru tua. Mila. Lima tahun bukan waktu yang singkat, tapi Niza masih bisa mengenalinya dari jarak seratus meter, dengan rintik hujan sebagai pembatas.

"Mila," desisnya, hampir tak terdengar.

Tapi Mila sudah menyeberang. Langkahnya pasti, mendekati meja di sudut tempat Niza duduk. Senyum tipisnya menghampiri sebelum dirinya sendiri.

"Lama tidak berjumpa, Niza."

Suara itu. Suara yang dulu selalu menjadi pengantar tidurnya, suara yang pernah berbisik, "Aku mencintaimu," dalam kegelapan kamar asrama mereka. Sekarang, terdengar asing, tapi akrab. Seperti lagu lama yang terlupakan, namun nadanya masih melekat di memori.

"Mila," ucap Niza, kali ini lebih lantang. "Aku tidak menyangka kau akan datang."

"Kamu yang mengirim pesan," balas Mila sambil duduk. Matanya, yang dulu selalu berbinar dengan kegembiraan, kini menyimpan kedalaman yang membuat Niza ingin menyelami sekaligus menjauh.

Mereka berdua tenggelam dalam diam yang sesaat, dibelah oleh dering bel kafe dan desisan mesin kopi. Niza mencoba mengumpulkan keberanian untuk pertanyaan yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun.

"Kenapa kau pergi, Mil? Tanpa kata, tanpa penjelasan. Seperti menguap begitu saja."

Mila memandangnya lama. "Apakah aku yang pergi, Niza? Atau justru kamu yang mengusirku tanpa sadar?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, tajam dan menusuk. Niza teringat pada Rina. Rina dengan tawanya yang renyah, dengan caranya yang sederhana mencintai Niza tanpa syarat. Rina adalah kenyamanan, sementara Mila adalah badai yang selalu dirindukan.

"Kita... kita dulu terlalu muda. Terlalu banyak emosi," jawab Niza akhirnya, menghindari pandangan Mila.

"Bukan tentang muda, Niza. Ini tentang pilihan." Mila mengambil sip dari air mineralnya. "Kamu memilih Rina. Kamu memilih untuk tidak memperjuangkan kita."

Niza menarik napas dalam. Kenangan itu datang beruntun seperti film bisu yang diputar ulang.

*Mereka bertiga dulu bagai segitiga sama sisi. Mila, si seniman liar dengan jiwa bebasnya. Rina, si cendekiawan yang tenang dan penuh perhitungan. Dan Niza, terjebak di antara dua kutub yang sama-sama membuatnya jatuh hati.*

*Tapi segitiga itu retak saat Niza, dalam kebimbangannya, secara tak sengaja membuat Mila merasa seperti pilihan kedua. Saat Niza lebih sering membatalkan janji dengan Mila karena Rina membutuhkannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Saat Niza diam ketika Rina dengan halus meremehkan impian Mila menjadi pelukis.*

"Bukan begitu, Mila. Aku... aku hanya bingung."

"Kamu tidak bingung, Niza. Kamu takut," sahut Mila, suaranya lembut tapi tegas. "Kamu takut pada intensitas perasaan kita. Kamu takut pada caraku mencintaimu yang terlalu ‘banyak’ untukmu. Rina aman. Rina tidak menuntutmu untuk terbang terlalu tinggi seperti yang kulakukan."

Perkataan Mila seperti pisau yang menguliti lapisan-lapisan pembenaran yang selama ini Niza bangun. Mungkin benar. Mungkin Niza takut pada api yang Mila bawa, dan memilih kehangatan sederhana dari Rina.

"Dan Rina? Bagaimana dia?" tanya Mila setelah jeda cukup lama.

Niza menghela napas. "Kami putus setahun setelah kau pergi. Hubungan kami... hampa. Seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi ruang. Aku sadar, yang kucari darinya adalah bayang-bayangmu."

Senyum getir muncul di bibir Mila. "Ironis, bukan? Kamu memilihnya, tapi justru kepergianku yang membuatmu menyadari bahwa kamu tidak bisa mencintainya."

Hujan di luar mulai reda, meninggalkan tetesan-tetesan air yang jatuh dari ujung kanopi, seperti air mata langit yang tersisa.

"Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan? Kenapa kau menghilang begitu saja dari hidupku?" tanya Niza, suaranya bergetar.

"Karena, Niza," Mila menatapnya dalam-dalam, matanya berkaca-kaca, "aku harus menyelamatkan sisa-sisa diriku yang hampir kau hancurkan dengan kebimbanganmu. Jika aku tinggal, aku akan terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Dan itu akan membunuhku perlahan."

Niza diam. Ia memahami sekarang. Bukan Mila yang pergi. Bukan juga kisahnya yang dihapus. Tapi dirinya sendiri, Niza, yang tersesat dalam labirin perasaannya sendiri. Ia begitu sibuk memikirkan siapa yang harus dipilih, sampai lupa bertanya pada hatinya, siapa yang benar-benar ia cintai.

"Sekarang aku mengerti," bisik Niza.

Mila tersenyum, kali ini lebih hangat. "Aku juga."

"Apa... apa kita bisa memulai lagi?" tanya Niza penuh harap.

Mila menggeleng pelan. "Tidak, Niza. Aku sudah bukan lagi Mila yang dulu. Dan kamu juga bukan Niza yang dulu. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk kembali ke masa lalu. Terkadang, cinta tidak cukup untuk menyatukan dua orang yang sudah tumbuh menjadi diri mereka yang sekarang."

Niza menunduk. Ia tahu Mila benar. Rasanya sakit, tapi anehnya, juga melegakan. Seperti akhirnya menemukan jawaban dari teka-teki yang lama mengganggunya.

Mila berdiri, mengambil tasnya. "Aku harus pergi."

"Ke mana?" tanya Niza, hampir berharap Mila akan mengajaknya ikut.

"Pameran lukisan tunggalku besok. Di galeri seni Merah Putih. Aku akan senang jika kamu datang," ucap Mila. "Tapi sebagai teman."

Niza mengangguk, tak sanggup berkata-kata.

Mila berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Niza sendirian dengan secangkir kopi dingin dan segudang penyesalan. Melalui jendela, Niza melihat Mila menghilang di ujung jalan, menyatu dengan kerumunan orang.

Dan di saat itu, Niza akhirnya mengerti.

Entah siapa yang hilang. Mungkinkah Mila yang telah pergi dari pikirannya? Atau semua kisah Mila telah ia hapus?

Jawabannya adalah bukan.

Yang hilang adalah dirinya sendiri, Niza, yang tersesat dalam bayang-bayang pilihan yang tak pernah benar-benar ia pilih. Dan kini, saat ia menemukan dirinya kembali, Mila sudah terlalu jauh untuk dikejar.

Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto, dan melihat satu-satunya foto yang masih ia simpan: foto dirinya dan Mila, tertawa lepas di pantai, dengan matahari terbenam sebagai latar. Senyum Mila begitu cerah, begitu bebas.

Dia tidak menghapusnya. Dia tidak akan pernah bisa.

Karena Mila bukan kenangan yang harus dihapus. Mila adalah pelajaran yang harus dibawa seumur hidup. Sebuah bab indah dalam buku hidupnya yang sudah tertutup, dengan lembaran-lembaran yang tak akan pernah terbaca lagi, namun akan selalu membuatnya tersenyum dan menangis dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Niza membiarkan air matanya jatuh, merasakan kehilangan itu sepenuhnya, sekaligus merasakan sebuah kedamaian aneh yang akhirnya menyelimuti hatinya yang telah lama terluka.

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...