langit senja membara, menyiram warna jingga dan ungu ke atas jalanan yang basah oleh hujan sore. Niza berdiri di bawah kanopi kafe tua itu, tempat di mana segala sesuatu bermula, dan mungkin juga tempat di mana segalanya akan berakhir. Di tangannya, segelas cappuccino hangat sudah berubah dingin, persis seperti rasa di dadanya.
Matanya tertuju pada seorang perempuan di seberang jalan. Rambut hitam sebahu, tubuh ramping terbungkus jas trench coat biru tua. Mila. Lima tahun bukan waktu yang singkat, tapi Niza masih bisa mengenalinya dari jarak seratus meter, dengan rintik hujan sebagai pembatas.
"Mila," desisnya, hampir tak terdengar.
Tapi Mila sudah menyeberang. Langkahnya pasti, mendekati meja di sudut tempat Niza duduk. Senyum tipisnya menghampiri sebelum dirinya sendiri.
"Lama tidak berjumpa, Niza."
Suara itu. Suara yang dulu selalu menjadi pengantar tidurnya, suara yang pernah berbisik, "Aku mencintaimu," dalam kegelapan kamar asrama mereka. Sekarang, terdengar asing, tapi akrab. Seperti lagu lama yang terlupakan, namun nadanya masih melekat di memori.
"Mila," ucap Niza, kali ini lebih lantang. "Aku tidak menyangka kau akan datang."
"Kamu yang mengirim pesan," balas Mila sambil duduk. Matanya, yang dulu selalu berbinar dengan kegembiraan, kini menyimpan kedalaman yang membuat Niza ingin menyelami sekaligus menjauh.
Mereka berdua tenggelam dalam diam yang sesaat, dibelah oleh dering bel kafe dan desisan mesin kopi. Niza mencoba mengumpulkan keberanian untuk pertanyaan yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun.
"Kenapa kau pergi, Mil? Tanpa kata, tanpa penjelasan. Seperti menguap begitu saja."
Mila memandangnya lama. "Apakah aku yang pergi, Niza? Atau justru kamu yang mengusirku tanpa sadar?"
Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, tajam dan menusuk. Niza teringat pada Rina. Rina dengan tawanya yang renyah, dengan caranya yang sederhana mencintai Niza tanpa syarat. Rina adalah kenyamanan, sementara Mila adalah badai yang selalu dirindukan.
"Kita... kita dulu terlalu muda. Terlalu banyak emosi," jawab Niza akhirnya, menghindari pandangan Mila.
"Bukan tentang muda, Niza. Ini tentang pilihan." Mila mengambil sip dari air mineralnya. "Kamu memilih Rina. Kamu memilih untuk tidak memperjuangkan kita."
Niza menarik napas dalam. Kenangan itu datang beruntun seperti film bisu yang diputar ulang.
*Mereka bertiga dulu bagai segitiga sama sisi. Mila, si seniman liar dengan jiwa bebasnya. Rina, si cendekiawan yang tenang dan penuh perhitungan. Dan Niza, terjebak di antara dua kutub yang sama-sama membuatnya jatuh hati.*
*Tapi segitiga itu retak saat Niza, dalam kebimbangannya, secara tak sengaja membuat Mila merasa seperti pilihan kedua. Saat Niza lebih sering membatalkan janji dengan Mila karena Rina membutuhkannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Saat Niza diam ketika Rina dengan halus meremehkan impian Mila menjadi pelukis.*
"Bukan begitu, Mila. Aku... aku hanya bingung."
"Kamu tidak bingung, Niza. Kamu takut," sahut Mila, suaranya lembut tapi tegas. "Kamu takut pada intensitas perasaan kita. Kamu takut pada caraku mencintaimu yang terlalu ‘banyak’ untukmu. Rina aman. Rina tidak menuntutmu untuk terbang terlalu tinggi seperti yang kulakukan."
Perkataan Mila seperti pisau yang menguliti lapisan-lapisan pembenaran yang selama ini Niza bangun. Mungkin benar. Mungkin Niza takut pada api yang Mila bawa, dan memilih kehangatan sederhana dari Rina.
"Dan Rina? Bagaimana dia?" tanya Mila setelah jeda cukup lama.
Niza menghela napas. "Kami putus setahun setelah kau pergi. Hubungan kami... hampa. Seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi ruang. Aku sadar, yang kucari darinya adalah bayang-bayangmu."
Senyum getir muncul di bibir Mila. "Ironis, bukan? Kamu memilihnya, tapi justru kepergianku yang membuatmu menyadari bahwa kamu tidak bisa mencintainya."
Hujan di luar mulai reda, meninggalkan tetesan-tetesan air yang jatuh dari ujung kanopi, seperti air mata langit yang tersisa.
"Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan? Kenapa kau menghilang begitu saja dari hidupku?" tanya Niza, suaranya bergetar.
"Karena, Niza," Mila menatapnya dalam-dalam, matanya berkaca-kaca, "aku harus menyelamatkan sisa-sisa diriku yang hampir kau hancurkan dengan kebimbanganmu. Jika aku tinggal, aku akan terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Dan itu akan membunuhku perlahan."
Niza diam. Ia memahami sekarang. Bukan Mila yang pergi. Bukan juga kisahnya yang dihapus. Tapi dirinya sendiri, Niza, yang tersesat dalam labirin perasaannya sendiri. Ia begitu sibuk memikirkan siapa yang harus dipilih, sampai lupa bertanya pada hatinya, siapa yang benar-benar ia cintai.
"Sekarang aku mengerti," bisik Niza.
Mila tersenyum, kali ini lebih hangat. "Aku juga."
"Apa... apa kita bisa memulai lagi?" tanya Niza penuh harap.
Mila menggeleng pelan. "Tidak, Niza. Aku sudah bukan lagi Mila yang dulu. Dan kamu juga bukan Niza yang dulu. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk kembali ke masa lalu. Terkadang, cinta tidak cukup untuk menyatukan dua orang yang sudah tumbuh menjadi diri mereka yang sekarang."
Niza menunduk. Ia tahu Mila benar. Rasanya sakit, tapi anehnya, juga melegakan. Seperti akhirnya menemukan jawaban dari teka-teki yang lama mengganggunya.
Mila berdiri, mengambil tasnya. "Aku harus pergi."
"Ke mana?" tanya Niza, hampir berharap Mila akan mengajaknya ikut.
"Pameran lukisan tunggalku besok. Di galeri seni Merah Putih. Aku akan senang jika kamu datang," ucap Mila. "Tapi sebagai teman."
Niza mengangguk, tak sanggup berkata-kata.
Mila berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Niza sendirian dengan secangkir kopi dingin dan segudang penyesalan. Melalui jendela, Niza melihat Mila menghilang di ujung jalan, menyatu dengan kerumunan orang.
Dan di saat itu, Niza akhirnya mengerti.
Entah siapa yang hilang. Mungkinkah Mila yang telah pergi dari pikirannya? Atau semua kisah Mila telah ia hapus?
Jawabannya adalah bukan.
Yang hilang adalah dirinya sendiri, Niza, yang tersesat dalam bayang-bayang pilihan yang tak pernah benar-benar ia pilih. Dan kini, saat ia menemukan dirinya kembali, Mila sudah terlalu jauh untuk dikejar.
Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto, dan melihat satu-satunya foto yang masih ia simpan: foto dirinya dan Mila, tertawa lepas di pantai, dengan matahari terbenam sebagai latar. Senyum Mila begitu cerah, begitu bebas.
Dia tidak menghapusnya. Dia tidak akan pernah bisa.
Karena Mila bukan kenangan yang harus dihapus. Mila adalah pelajaran yang harus dibawa seumur hidup. Sebuah bab indah dalam buku hidupnya yang sudah tertutup, dengan lembaran-lembaran yang tak akan pernah terbaca lagi, namun akan selalu membuatnya tersenyum dan menangis dalam diam.
Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Niza membiarkan air matanya jatuh, merasakan kehilangan itu sepenuhnya, sekaligus merasakan sebuah kedamaian aneh yang akhirnya menyelimuti hatinya yang telah lama terluka.