Minggu, 07 September 2025

KETIKA API PERLAHAN DINGIN



Goresan ini adalah refleksi mendalam untuk diri penulis. Tulisan ini pula menjadi sebuah titik persinggahan Penulis untuk sejenak merefleksi 16 tahun perjalan menghambakan diri pada apa yang disebut "MENDIDIK".

Refleksi ini sungguh memantulkan gema yang sangat menarik bagi diri penulis. Penulis dalam perhentian ini membuatnya sadar ternyata masih banyak " Blankspot "yang luput dan tak terjamah.

Penulis paham kesempurnaan itu bukan milik alam tapi semua MilikNya. Akan tetapi penulis sangat bersyukur karena setelah penulis kembali melihat jauh dalam diri, Wow! ternyata penulis benar-benar telah bergeser pada ritme, irama, dan rel semula. Olehnya itu, penulis dalam keterbatasannya berusaha mengumpulkan titik-tikik embun semangat demi menuju perbaikan kualitas diri......by NN

Terdapat sebuah sekolah dahulu di negeri dongeng yang bersinar bagai mutiara di tengah kota. Namanya bukan sekadar nama, melainkan sebuah lambang keunggulan. Di bawah kepemimpinan seorang kepala sekolah yang visioner, denyut nadi kehidupan akademiknya berdetak keras dan penuh gairah. Sang pemimpin, meski dikenal tegas dan tak segan memberikan teguran pedas, memiliki visi yang tajam dan paham betul medan yang harus ditaklukkan. Di era keemasannya, guru-guru bersatu padu bagai satu tubuh, bergotong royong dengan semangat baja. Setiap inspirasi disulap menjadi karya nyata, prestasi demi prestasi ditorehkan bak ukiran indah yang abadi. Atmosfernya terasa berat, air mata kerap menetes akibat tuntutan yang tinggi, dan perdebatan sengit adalah menu harian. Namun, semua itu adalah bahan bakar yang justru mematrikan fondasi yang kokoh untuk sebuah nama besar: sekolah prestasi.


Namun, bertahun-tahun berlalu, sinar itu perlahan-lahan meredup. Visi yang dulu jelas dan membara, kini kabur bagai kaca berembun. Semangat kolektif itu melemah, berganti dengan bisik-bisik hening dan perasaan tidak adil yang mengendap. Usul-usul brilian yang dahulu disambut, kini patah di tengah jalan tanpa alasan yang jelas, seakan ada dinding tak kasat mata yang menghalangi kemajuan.


Yang tragis, kini seolah hanya hidup dengan memakan bekal warisan pendahulunya. Bekal prestasi, nama baik, dan sistem yang dulu ditinggalkan itu terus terkikis, digunakan untuk menutupi lubang-lubang kemandegan yang ada. Jika tidak segera sadar, maka suatu saat bekal itu akan habis, dan yang tersisa hanyalah penyesalan atas gagalnya sistem pendidikan yang dulu begitu dibanggakan.


Gerakan peningkatan mutu tak lagi berjiwa, hanya menjadi rutinitas hambar tanpa roh. Apresiasi bagi pendidik berprestasi terasa kosong, sekadar seremonial belaka tanpa makna yang menyentuh hati. Yang lebih menyedihkan, mereka yang bekerja keras dengan dedikasi tinggi justru kerap mendapat teguran dan tekan kuat, sementara yang sekadar memenuhi kewajiban malah mendapat perlakuan yang sama, bahkan cenderung lebih nyaman. Puncak ketidaknyamanan itu muncul ketika isu transparansi, khususnya dalam hal keuangan dan pendapatan sekolah, mencoba diusung. Mereka yang mempertanyakan itu justru dianggap sebagai pengacau, terlalu ingin tahu, dan mengganggu ketenangan ‘lingkaran dalam’. Padahal, itu adalah urusan bersama untuk kemaslahatan sekolah. Kini, sekolah itu bagai kapal besar yang kehilangan nahkoda, terombang-ambing di lautan yang semakin tak menentu, merindukan sinar yang dulu pernah begitu megah dan kharismatik.


Bangunlah dan segeralah sadar!

Saatnya kembali membangun secara menyeluruh, dimulai dari kesejahteraan guru, kualitas murid, hingga fisik sekolah, secara berimbang. Hanya dengan fondasi yang kuat dan merata, kualitas akan kembali muncul dan sekolah akan menemukan ritmenya menuju kejayaan yang baru. Manfaatkan semua sumber daya secara terbuka, transparan, dan profesional. Kembalikan semangat gotong royong, hargai setiap karya, dan dengarkan setiap suara. Karena hanya dengan begitu, mutiara itu akan kembali bersinar.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...