Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, aku sudah membiasakan diri mencium kening istri dan keempat anakku yang masih terlelap. Perjalanan seratus kilometer menanti, ditempuh dengan motor tuaku yang setia namun rakus bensin. Gajiku sebagai guru biasa pas-pasan, habis untuk biaya sekolah anak-anak dan untuk membuat motor ini tetap bernyawa. Sering kali, di sela-sela mengajar atau dalam perjalanan panjang, keroncongan di perut kuganjal dengan segelas air putih. Itu sudah cukup. Asalkan mereka di rumah tersenyum kenyang.
Hari itu seperti biasa. Langit kelabu mengancam sejak pagi, tapi aku harus berangkat. Sepulang mengajar, langit pun pecah. Hujan lebat membasahi bumi, memaksaku untuk singgah berteduh di sebuah warung kecil di pinggir hutan. Setelah hujan mereda, aku melanjutkan perjalanan. Namun, baru sekitar satu kilometer, hujan kembali turun dengan amat deras, disertai petir yang menyambar-nyambar menghasilkan kilatan putih getarkan dada.
Dengan susah payah, mataku menatap tajam mencari tempat berteduh. Akhirnya, kulihat sebuah pos ronda yang tampak reyok. Belum sempat aku memarkir motorku dengan sempurna, mesinnya mendengkur pelan lalu mati untuk selamanya. Aku mendorongnya dengan tenaga terakhirku hingga masuk ke bawah atap pos ronda yang bocor di beberapa tempat.
Dengan perasaan was-was, kuperiksa tangki bensin. Kosong. Benar-benar kosong. Dadaku sesak. Kucoba mengusir kecemasan dengan membuka dompet. Isinya menyisakan selembar uang dua ribu rupiah yang lusuh. Hatiku hancur. Delapan puluh kilometer lagi! Badan yang basah kuyup mulai menggigil kedinginan. Lapar yang selama ini kupendam datang menyerbu. Aku terduduk lemas di bangku kayu yang basah, menatap hujan yang seakan tak mau berhenti, merasakan betapa kecil dan hinanya diriku.
Tiba-tiba, dari kejauhan, di balik deras hujan yang pekat, terlihat sesosok bayangan. Seorang kakek tua, dengan susah payah menarik gerobak kayu yang penuh buah semangka, berusaha menaiki tanjakan licin. Nafasku tertahan melihatnya. Lalu, *prook!* Suara itu memecah deru hujan. Kakek itu terjatuh, terpeleset di lumpur, dan gerobaknya miring, menjeburkan beberapa buah semangka ke selokan.
Tanpa pikir panjang, aku berlari menembus hujan. "Astaghfirullah, Kek!" seruku sambil membantu sang kakek berdiri. Dengan penuh kesabaran, aku memunguti satu per satu semangka yang berceceran dan mengembalikannya ke gerobak. Kulihat lelah dan kepasrahan di wajahnya yang keriput. "Mari, Kek, saya bantu dorong." Aku mendorong gerobak itu dari belakang dengan sisa tenaga yang kumiliki, hingga akhirnya kami berhasil mencapai puncak tanjakan.
Kakek itu memegangi tanganku erat. "Terima kasih, Nak. Kau baik sekali. Semoga Tuhan membalasmu."
Dia kemudian mengambil beberapa buah semangka dari gerobaknya—delapan buah—dan memaksaku menerimanya. Awalnya aku menolak, tapi bayangan akan rasa lapar dan dingin yang menggigit membuatku akhirnya mengangguk pasrah. "Terima kasih, Kek," kataku lirih, sementara kakek itu melanjutkan perjalanannya dan menghilang di tikungan.
Di bawah pos ronda, dengan tubuh yang semakin menggigil, kuambil satu semangka dan kubelah dengan pisau lipat yang selalu kubawa. Terkejut aku melihatnya. Daging buahnya berwarna kuning keemasan, bukan merah seperti biasa. Kuambil satu suap. Manisnya begitu sempurna, menyegarkan, seolah langsung mengisi setiap ruang kosong di perutku. Kuhabiskan satu buah itu dengan lahap. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa kenyang. Rasa syukur yang tulus memancar dari dalam hatiku. Pikiranku yang tawar menjadi jernih kembali.
Namun, masalah utamaku belum terpecahkan: bensin habis, uang hanya dua ribu. Matahari sudah mulai condong ke barat. Hujan sudah reda, tapi aku terancam bermalam di sini. Tak ada ponsel, tak ada charger. Aku bersandar pada motorku, putus asa. “Nak, mungkin ayah ‘tak sampai untuk memelukmu”, bisikku dalam hati.
"Mas, Mas..."
Suara lembut memanggil. Kulihat seorang wanita cantik berdiri di dekatku, menatap semangka-semangka yang tersisa.
"Kenapa, Bu?" tanyaku.
"Semangkanya dijual, Mas? Kelihatan segar sekali," katanya sambil tersenyum.
Hampir saja kuucapkan bahwa itu pemberian dan tidak untuk dijual. Tapi kemudian, seperti dapat wangsit, aku teringat bahwa aku butuh uang untuk bensin.
"Iya, Bu. Mau berapa?"
"Aku mau dua saja, Mas."
Tanpa pikir panjang, kuberi harga. "Dua puluh ribu per buah, Bu." Hatiku berdebar-debar, takut dia menolak.
Wanita itu mengangguk, mengambil dua semangka, dan memberikanku empat puluh ribu rupiah. Rasanya seperti mimpi. Dia pergi dengan senyuman, dan aku memandangi uang itu dengan mata berkaca-kaca.
Tanpa buang waktu, kucari kardus bekas dan dengan potongan spidol, kutulis: "Yuk, Beli Semangka Madu! Manis dan Segar! 25ribu/buah."
Ajaib. Satu per satu mobil berhenti. Para penumpang yang lelah setelah terjebak hujan membeli semangkaku. Dalam waktu singkat, tujuh semangka tersisa laku terjual. Tanganku kini memegang uang seratus tujuh puluh lima ribu rupiah, jumlah yang terasa seperti rezeki nomplok.
Dengan hati yang bergetar bahagia, aku berjalan ke kedai bensin botolon yang berada sekitar tiga ratus meter dari tempatku, membeli bensin dan sedikit makanan. Perjalanan pulang terasa begitu ringan. Motor yang tadinya seperti beban, kini melesat membawaku mendekati rumah.
Sesampai di rumah, istri dan anak-anakku menyambut dengan pelukan hangat. Mereka tak pernah tahu betapa harunya diriku. Aku hanya memeluk mereka lebih erat. Rezeki memang tak pernah datang dari jalan yang disangka-sangka. Kadang, ia datang dari hujan deras, seorang kakek tua, dan tujuh buah semangka kuning yang manis. Malam itu, aku berdoa dengan khusyuk, berterima kasih pada-Nya atas semua pelajaran hari ini: bahwa keikhlasan menolong, sekecil apa pun, akan kembali pada kita dalam bentuk yang tak terduga.

