Bukan lagi angin yang membawa kabar,
Tapi debu-debu masa yang mengepul di pelupuk mata.
Perahu ini, karatan di dermaga asing,
Jangkar mencengkeram lumpur basah –
Bukan lautan yang dijanjikan dulu.
Sistem? Seperti batu timbangan retak,
Selalu miring ke pundi yang gemuk bersenandung.
Mata uang buta menghitung keringat,
Sementara mimpi digerus roda besi dingin,
Menjadi serpih di celah batu jalanan.
Itu yang Aku rasa,
Aku yang kau kenal "Oddo" dulu.
Di sini, musim gugur dan basah Agustus abadi menari,
Daun-daun emas jatuh, bukan dari pohon kenangan,
Tapi dari kalender yang gersang, hampa makna.
Matahari terbit di barat, terlalu tua untuk terus terikat,
Menyinari bayangan yang semakin panjang dan sepi.
Aku rindu pada bau tanah basah selepas hujan pertama,
Pada desau bambu yang berbisik bahasa ibu.
Rindu pada lekuk jalan yang menghitung tapak bocah,
Pada bintang-bintang yang tak perlu peta untuk pulang.
Di sini, langit terlalu tinggi, terlalu asing memeluk, terlalu riuh untuk tenang.
Maka kupatahkan rantai jam yang membelenggu pergelangan,
Kuretak cangkang keras yang kudokok demi bertahan.
Kuukur jarak bukan dengan mil, tapi dengan denyut nadiku sendiri –
Menghitung langkah-langkah yang tersesat di labirin logam,
Mencari jalan pulang yang tersembunyi di bawah lidah api lampu kota dan panasnya aspal.
Aku akan merobek jubah asing ini,
Mencuci kaki dengan air mata yang tersisa.
Dan biarlah kakiku yang pecah-pecah itu,
Menapak kembali bumi yang menanti –
Meski hanya untuk menjadi pupuk bagi tanah yang merindukan akarnya,
Dan menumbuhkan tunas baru di bekas luka yang lama.
Kawan?
Aku sudah 'tak peduli,
Pada ingatanmu pada buruk rupa atau canda.
Sarang mestilah berpenghuni,
Sebab buah hati di sana risau menanti.
Terakhir...
Mari tersenyum,
"Kue bercabe dan segelas Ale-ale"
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar