Kamis, 07 Agustus 2025

Bumi di Pelupuk Matamu

Di hamparan waktu berliku-liku,  

Kau kompas yang setia menuntunku,  

Bagai matahari pagi yang hangatkan embun beku,  

hidupkan kembali rindu membatu sejak lama.  


Parasmu sejuk seperti sinar purnama,  

Menyinari gelap malam jiwa,  

- Suram -

Senyummu serupa kuntum melati bermekaran,  

Wanginya menyapu lara, mengusir segala gundah gulana.  


Matamu bak samudra tak ada tepian,  

Dalamnya tenang, teduh, penuh rahasia tak terdugaan.  

Setiap pandang adalah ombak lembut yang membelai karang rindu,  

Membasuh pasir putih dunia di hatiku.  


Suaramu gemercik sungai jernih,  

Mengalir bening, menghanyutkan resah yang pekat mengerih.  

Tawamu seperti bisik dedaunan di kala senja,  

Merdu yang merajut syahdu, meruntuhkan sekat jiwa.  


Pelukmu - pelabuhan bagi kapal yang lelah berlayar, 

Tempat berlabuh setelah mengarungi badai mengamuk samudra.  

Kasih sayangmu ibarat akar yang menghunjam bumi,  

Menopang dahan hidupku, memberi kekuatan abadi.  


Kau adalah oase di padang pasir sepi,  

Kau adalah hujan sejukkan tanah hati yang tandus merana dan retak kerna rindu,

Kau adalah kanvas tempat warnaku bercerita,  

Kau adalah syair  terindah dalam kitab cinta.  


Di telapak tanganmu, kutemukan peta surga duniawi,  

Dalam dekapanmu, serasa syurga mendekap seluruh galaksi ketentraman abadi.  

Bersamamu, setiap detik adalah puisi yang hidup dan bernafas, 

Dan cintaku padamu bagai lautan tak bertepi, mengalir tanpa henti, abadi.


_ Mama _

_ Bapak _

Aku rindu yang terluka

Aku jasad yang terus berandai

Aku jiwa lepas tanpa jumpa batas


Ibu, Bapak!


Aku anakmu mulai lelah,

Dimana bahumu?????

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...