Senin, 11 Agustus 2025

Aku dan Waktu

Kala itu purnama belum meninggi. 

matahari pulang—bukan bersamamu.
Aku duduk di tepi waktu,
Berbincang dengan malam tentang apa yang terjadi, 

Tiba-tiba hening, 

Tiba-tiba bertuba. 

Aku mencari, kembali dalam benak. Apa gerangan terjadi? Apakah nasehat itu!? 

Kepada angin,
aku titipkan suaraku yang gemetar,
"Perhatikanlah ibadah anak-anak kita…"
sebuah bisikan yang seharusnya jadi doa,
namun berubah jadi badai di dadamu.

Kau terbang, hilang_
seperti burung yang salah sangka pada langit,
meninggalkan sarang yang masih hangat,
meninggalkan aku,
dan buah hati kita, berdiri dipegangan kursi kayu sekadar mengintip keluar jendela menanti ibu yang belum juga kabar. 

Malam datang sebagai musafir kelam,             mengetuk jendela dengan suara jengkrik.  Aku menunggumu di gerbang waktu, bingung pada apa yang terjadi,                         hingga sampan enggan kembali ke dermaga.

Pintu ini,
seperti mulut yang bisu,
tak lagi mengucap salam kedatanganmu.
Jam dinding menatapku dingin,
jarumnya berlari,
mengejek sabarku yang terpaku di kursi ruang tamu.

Aku terus mengaduk langit dengan doa,
agar Tuhan menurunkan hujan yang melembutkan hatimu.
Aku menggenggam malam seperti anak kecil menggenggam harap,
tak mau kulepaskan, meski durinya menembus telapak hatiku.

Karena aku tahu—
cinta adalah perahu yang tetap berlayar,
meski layar koyak dan ombak menikam.
Dan demi anak-anak kita,
aku akan tetap menjadi matahari di rumah ini,
hingga suatu hari kau pulang,
membawa kembali rindu yang pernah hilang. 

Jangan buatku menunggu terlalu lama           nanti rindu hambar lalu pait                             hati hilang hangatnya dan beku.                     Ketahuilah bahwa jalan ujung masih jauh   Aku enggan membusuk di persimpangan. 

_baliklah, sebelum pintu rapat tertutup_

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...