Kamis, 14 Agustus 2025

80 Cahaya dari kaki Gunung

Delapan puluh tahun panji berkibar,  

Sekolah riuh, semarak 'tak terkira.  

Murid-murid ceria, hati bebas terbang melayang,  

Di lapangan hijau, sorak bergemuruh riang.  


Tarik tambang! Tali tegang di tangan kiri-kanan,  

Teriak "Ayo!" bersautan penuh keri.  

Keringat bercampur tawa, semangat membumbung tinggi,  

Urat leher menegang, tatapan tajam fokus pada komando. 

Kekompakan terjalin, erat di sanubari.  


Gemuruh drumband memecah angkasa cerah,  

Tabuh berirama, langkah tegas berdentum.  

Seragam rapi, bendera kecil berkibaran mengepak, 

Lagu perjuangan mengalun, semangat takkan luntur.  

Di tepian, duduk berjejal penonton asyik,  

Mata berbinar menyaksikan gelora pentas.  

Senyum mengembang, tepuk tangan riuh rendah-tinggi,  

Kebahagiaan sederhana, terpancar dari jiwa.  


Guru-guru sigap, tak kenal kata lelah,  

Melatih gerakan, berdiskusi penuh semangat.  

Membimbing langkah, menata barisan indah,  

Cinta pada tugas, tak lekang oleh panas.  


Di sudut dapur, aroma harum menyeruak,  

Guru lain sibuk, kudapan lezat disiapkan.  

Kue tradisional, minuman dingin tersusun rapi,  

Untuk pengisi tenaga, para pejuang latihan.  


Satu, dua! Barisan murid dan guru berpadu,  

Melangkah bersama, gerak jalan penuh harmoni.  

Kaki diangkat serentak, pandangan lurus ke depan,  

Membentuk mozaik hidup, indah dan berseri.  


Delapan puluh cahaya, dalam canda dan usaha,  

Merah Putih bersemi di hati setiap insan.  

Dalam kerja sama, gotong royong nan terjaga,  

"Siaaappp, gerak! "

"Langkah tegak maju, jalan! "

Bergetar tubuh bunda Pertiwi, 

Udara mendesir langkah tegap maju mengusung semangat Indonesia maju. 

Kemerdekaan berarti: kebersamaan yang teguh berdiri.  

"Merdeka, merdeka"



---


Senin, 11 Agustus 2025

Aku dan Waktu

Kala itu purnama belum meninggi. 

matahari pulang—bukan bersamamu.
Aku duduk di tepi waktu,
Berbincang dengan malam tentang apa yang terjadi, 

Tiba-tiba hening, 

Tiba-tiba bertuba. 

Aku mencari, kembali dalam benak. Apa gerangan terjadi? Apakah nasehat itu!? 

Kepada angin,
aku titipkan suaraku yang gemetar,
"Perhatikanlah ibadah anak-anak kita…"
sebuah bisikan yang seharusnya jadi doa,
namun berubah jadi badai di dadamu.

Kau terbang, hilang_
seperti burung yang salah sangka pada langit,
meninggalkan sarang yang masih hangat,
meninggalkan aku,
dan buah hati kita, berdiri dipegangan kursi kayu sekadar mengintip keluar jendela menanti ibu yang belum juga kabar. 

Malam datang sebagai musafir kelam,             mengetuk jendela dengan suara jengkrik.  Aku menunggumu di gerbang waktu, bingung pada apa yang terjadi,                         hingga sampan enggan kembali ke dermaga.

Pintu ini,
seperti mulut yang bisu,
tak lagi mengucap salam kedatanganmu.
Jam dinding menatapku dingin,
jarumnya berlari,
mengejek sabarku yang terpaku di kursi ruang tamu.

Aku terus mengaduk langit dengan doa,
agar Tuhan menurunkan hujan yang melembutkan hatimu.
Aku menggenggam malam seperti anak kecil menggenggam harap,
tak mau kulepaskan, meski durinya menembus telapak hatiku.

Karena aku tahu—
cinta adalah perahu yang tetap berlayar,
meski layar koyak dan ombak menikam.
Dan demi anak-anak kita,
aku akan tetap menjadi matahari di rumah ini,
hingga suatu hari kau pulang,
membawa kembali rindu yang pernah hilang. 

Jangan buatku menunggu terlalu lama           nanti rindu hambar lalu pait                             hati hilang hangatnya dan beku.                     Ketahuilah bahwa jalan ujung masih jauh   Aku enggan membusuk di persimpangan. 

_baliklah, sebelum pintu rapat tertutup_

Kamis, 07 Agustus 2025

Ode, buat Raga yang Masih Bergolak

Bukan lagi angin yang membawa kabar,

Tapi debu-debu masa yang mengepul di pelupuk mata.

Perahu ini, karatan di dermaga asing,

Jangkar mencengkeram lumpur basah – 

Bukan lautan yang dijanjikan dulu. 


Sistem? Seperti batu timbangan retak,

Selalu miring ke pundi yang gemuk bersenandung.

Mata uang buta menghitung keringat,

Sementara mimpi digerus roda besi dingin,

Menjadi serpih di celah batu jalanan.

Itu yang Aku rasa, 

Aku yang kau kenal "Oddo" dulu. 


Di sini, musim gugur dan basah Agustus abadi menari,

Daun-daun emas jatuh, bukan dari pohon kenangan,

Tapi dari kalender yang gersang, hampa makna.

Matahari terbit di barat, terlalu tua untuk terus terikat,

Menyinari bayangan yang semakin panjang dan sepi.


Aku rindu pada bau tanah basah selepas hujan pertama,

Pada desau bambu yang berbisik bahasa ibu. 

Rindu pada lekuk jalan yang menghitung tapak bocah,

Pada bintang-bintang yang tak perlu peta untuk pulang.

Di sini, langit terlalu tinggi, terlalu asing memeluk, terlalu riuh untuk tenang. 


Maka kupatahkan rantai jam yang membelenggu pergelangan,

Kuretak cangkang keras yang kudokok demi bertahan.

Kuukur jarak bukan dengan mil, tapi dengan denyut nadiku sendiri –

Menghitung langkah-langkah yang tersesat di labirin logam,

Mencari jalan pulang yang tersembunyi di bawah lidah api lampu kota dan panasnya aspal. 


Aku akan merobek jubah asing ini,

Mencuci kaki dengan air mata yang tersisa.

Dan biarlah kakiku yang pecah-pecah itu,

Menapak kembali bumi yang menanti –

Meski hanya untuk menjadi pupuk bagi tanah yang merindukan akarnya,

Dan menumbuhkan tunas baru di bekas luka yang lama.

Kawan? 

Aku sudah 'tak peduli, 

Pada ingatanmu pada buruk rupa atau canda. 

Sarang mestilah berpenghuni,

Sebab buah hati di sana risau menanti. 

Terakhir... 

Mari tersenyum, 

"Kue bercabe dan segelas Ale-ale"


--

Bumi di Pelupuk Matamu

Di hamparan waktu berliku-liku,  

Kau kompas yang setia menuntunku,  

Bagai matahari pagi yang hangatkan embun beku,  

hidupkan kembali rindu membatu sejak lama.  


Parasmu sejuk seperti sinar purnama,  

Menyinari gelap malam jiwa,  

- Suram -

Senyummu serupa kuntum melati bermekaran,  

Wanginya menyapu lara, mengusir segala gundah gulana.  


Matamu bak samudra tak ada tepian,  

Dalamnya tenang, teduh, penuh rahasia tak terdugaan.  

Setiap pandang adalah ombak lembut yang membelai karang rindu,  

Membasuh pasir putih dunia di hatiku.  


Suaramu gemercik sungai jernih,  

Mengalir bening, menghanyutkan resah yang pekat mengerih.  

Tawamu seperti bisik dedaunan di kala senja,  

Merdu yang merajut syahdu, meruntuhkan sekat jiwa.  


Pelukmu - pelabuhan bagi kapal yang lelah berlayar, 

Tempat berlabuh setelah mengarungi badai mengamuk samudra.  

Kasih sayangmu ibarat akar yang menghunjam bumi,  

Menopang dahan hidupku, memberi kekuatan abadi.  


Kau adalah oase di padang pasir sepi,  

Kau adalah hujan sejukkan tanah hati yang tandus merana dan retak kerna rindu,

Kau adalah kanvas tempat warnaku bercerita,  

Kau adalah syair  terindah dalam kitab cinta.  


Di telapak tanganmu, kutemukan peta surga duniawi,  

Dalam dekapanmu, serasa syurga mendekap seluruh galaksi ketentraman abadi.  

Bersamamu, setiap detik adalah puisi yang hidup dan bernafas, 

Dan cintaku padamu bagai lautan tak bertepi, mengalir tanpa henti, abadi.


_ Mama _

_ Bapak _

Aku rindu yang terluka

Aku jasad yang terus berandai

Aku jiwa lepas tanpa jumpa batas


Ibu, Bapak!


Aku anakmu mulai lelah,

Dimana bahumu?????

Sistem Kaku dalam Dunia Demokrasi


By: Nasruddin Natsir


Sistem yang kaku pada hakikatnya adalah bibit dari otoritarianisme. Ia tumbuh subur dengan meminggirkan musyawarah mufakat, mencemooh ide konstruktif, dan yang paling berbahaya menganggap setiap pandangan berseberangan sebagai ancaman atau bahkan bentuk perlawanan yang harus bungkam. Suara kritis bukan dianggap sebagai oksigen bagi perbaikan, melainkan polusi yang mengganggu stabilitas semu yang dipertahankannya.


Yang lebih tragis, sistem beku (freeze) ini telah lama melakukan metamorfosis ilusif. Dari masa ke masa, ia berganti kulit, berpura-pura menjelma menjadi sistem yang demokratis dan aspiratif. Perubahan kulit inilah yang kerap menjebak kita. Kemampuan kamuflasenya sangat tinggi: ia tampak lentur, seolah terbuka pada dialog, dan fleksibel merespon zaman. Namun, jangan terkecoh. Pada intinya, sistem kaku tetaplah otoriter yang membatu. Jantungnya berdegup dengan ketakutan, selalu memandang perubahan dan perbedaan sebagai musuh yang mengancam hegemoninya.


Mereka yang berada dalam lingkaran tersebut justru seolah-olah tidak menyadari bahwa sistem yang mereka kembangkan sebenarnya bentuk otoritarianisme modern


Di balik topeng demokrasi itu, sifat hakiki sistem kaku semakin nyata:


  1. Ambisi Menguasai Sumber Daya.  Sistem kaku dilandasi oleh hasrat untuk mengontrol dan memonopoli segala sumber daya, mulai dari kekayaan alam, akses ekonomi, informasi, hingga ruang politik. Penguasaan ini bukan untuk kemakmuran bersama, melainkan untuk mengamankan kekuasaan dan memenuhi hasrat lingkaran dalamnya. Sumber daya dilihat sebagai alat kuasa, bukan amanah untuk dikelola bagi kesejahteraan rakyat.

  2. Distribusi Hasil yang Timpang dan Eksploitatif. Ketika tiba saatnya membagi hasil jerih payah kolektif, sistem kaku memperlihatkan wajah aslinya yang enggan berbagi. Anggota biasa, rakyat jelata yang menjadi tulang punggung, hanya mendapat remah-remah—mungkin hanya satu persen dari keseluruhan kue. Sementara itu, para pemimpin beserta kroni dalam lingkaran istimewa mereka menikmati porsi yang sangat besar, mudahnya mencapai lima puluh persen atau lebih. Ketimpangan yang menyakitkan ini bukan kecelakaan, melainkan desain struktural.

  3. Ilusi Keadilan yang Didefinisikan Sendiri membuat sistem ini kemudian membungkus ketimpangan brutal itu dengan retorika "keadilan". Namun, keadilan yang dimaksud adalah versi mereka sendiri—sebuah definisi sempit yang mengabsahkan ketidakadilan yang mereka ciptakan. Keadilan versi penguasa berarti menerima pembagian sepihak tanpa protes, menganggap kemurahan hati para elit sebagai sesuatu yang patut disyukuri, dan tunduk pada kalkulasi yang tak pernah transparan.

  4. Kriminalisasi Suara Kritis mengakibatkan, siapa pun yang berani mempertanyakan ketimpangan ini, menuntut transparansi dalam perhitungan, atau mengajukan formula pembagian yang lebih adil, segera dijatuhi stigma. Mereka akan dicap sebagai pembangkang, perusu, atau rakus yang tidak tahu terima kasih. Label-label negatif ini adalah senjata ampuh untuk membungkam kritik, mengisolasi suara kebenaran, dan mempertahankan status quo yang menguntungkan segelintir elite.


Oleh karena itu, kewaspadaan kita tidak boleh terkecoh oleh kulit luar demokrasi yang dipasang sistem kaku. Kita harus menembus kamuflase, mengkritisi struktur kekuasaan yang sentralistis dan tertutup, serta menolak ilusi keadilan yang mereka tawarkan. Perjuangan melawan sistem kaku adalah perjuangan untuk transparansi, akuntabilitas, distribusi sumber daya yang berkeadilan sejati, dan yang terpenting: pengakuan bahwa setiap suara rakyat berhak didengar tanpa ancaman stigmatisasi. Hanya dengan menolak kekakuan dan membangun sistem yang benar-benar inklusif dan responsif, kita dapat membebaskan diri dari cengkeraman otoritarianisme yang bersembunyi di balik topeng demokratis.


“Jika kata dalam hati adalah yang terlemah,maka biarlah aku dalam bagian itu, setidaknya bila raga bungkam; tapi tidak dengan hatiku”

 ~Nasruddin Natsir~



Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...