Di balik senyum yang terukir sempurna,
Ada belati yang terhunus di balik jubah sutra.
Kau panggil mereka pemimpin, sang pelindung setia,
Tapi langkah mereka adalah tarian sang pengecut.
Memainkan bidak dalam catur, terus berkorban pantang memeluk luka,
Dengan kata bermadu, mereka merajut jerat,
Bawahnya terjatuh, sementara ia tegak di singgasana.
Oh, betapa lihai kau memainkan sandiwara, segala di terabas lalu dilepas.
Menjual pengorbanan orang lain demi mahkota durja!
Kau bicara tentang "tim," tentang "kebersamaan,"
Kau bicara petang ketika padahal siang,
Kau bicara siang padahal petang,
Tapi ketika badai datang, kau sembunyi di balik perisai kehinaan.
Bukan pedang yang kau angkat, melainkan pengkhianatan,
Mengorbankan ksatria-ksatria demi nyawamu yang fana.
Lihatlah—darah mereka mengalir di medan yang kau ciptakan,
Sementara kau bertepuk tangan dari menara gading.
Wahai sang pengecut berbaju Tuan,
Suatu hari, sejarah akan membongkar topengmu yang retak!
Sebab pengkhianat sejati bukanlah yang jatuh,
Melainkan yang menjatuhkan, lalu mengaku sebagai dewa!