Kadang sepekan kadang juga berbulan-bulan bahkan ada sampai berganti kalender.
Setiap persinggahan aku termenung menimbang untung rugi perjalanan.
Aku menimbang lalu tersenyum.
Aku menakar lalu terdiam.
Aku menjumlah lalu menangis.
Heran mengapa timbangan 'tak kunjung setimpal.
Jumlah selalu kurang meski takar berulang.
Jalan yang kulalui terasa ujung sudah tercium
Bukan riang, raga menggigil menyeret menjauh dari ujung.
Apa ini?
Bayangan pun turut lepas menjauh dari garis akhir.
"Jangan kesana! Kita masih hitam! "
Badan masih lusuh dan bau jangan kesana.
Lagi langkah aku jedah sesaat.
Aku duduk di bawah langit dengan kepala terbuka,
Betul Aku masih hitam,
Kulit bersisik hampir 'tak tersentuh berkah air suci lima
'Kutarik hati dari balik dada,
Bukannya merah tapi hitam legam.
Raga bergetar bergemuruh seperti ombak bergejolak.
---- kemana zikir! -----
Mengapa tiada terang bersinar?
Ku hempaskan tubuh di tengah terik pada tanah lapang rumput ilalang.
Mendesir ilalang menari dibelai sepoi bayu,
Wahai sang pencipta, inikah zikir makhlukMu yang lebih agung dan ikhlas.
Tuhan, Aku ingin berbalik dari titik semula.
Akan ku bilas gumpalan ini dari dengki hingga syukurlah menyeruak.
Aku kini paham!
Timbangan,
Takaran,
Jumlah.
Meleset dan tidak pernah memuaskan.
Perjalanan ini aku jedah,
Ingin belajar syukur
Jangan panggil aku
Sebelum bayang putih dan hati kembali merona.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar