By: Nasruddin Natsir
Sepanjang ini
jejak masih antara awang-awang
Sajak tentang
bahagia masih pula pada ujung kata yang meleleh dalam tenggorokan.
Desir ombak pantai
dikala pagi nempel sampe pipi saja,
Hati belum terhembus.
Aku menamai
diriku keindahan pada jejak paras grafiti di tiap dinding tembok tol.
Tapi aneh!
Penamaan itu
buatku benci pada indahku dan indah mu.
Ku paksa berpaling
dari tatap yang menempel dalam syahwat cinta ku pada keindahan.
Suatu waktu
berdiam dalam kumbara
Aku renung,
khusyuk Aku,
Aku nyepi.
Sebagian aku temukan
racun melukai hati,
Dada bergetar
mengejar irama beduk pawai tujuh belasan.
Sebagiannya kutemukan
semerbak kembang mekar musim semi.
Adakah jawaban
yang dapat menerangkan keindahan melahirkan perih
Badanku hilang
berat
Menguap di
awang-awang,
Tolong hentikan lekuk
pada belokan,
Belokan jangan
lagi berbelok,
Aku ingin terus
memandang lurus,
Kelopak mata akan
aku lepas sebab dia menjadi penghalang pandang pada keindahanku dan kamu.
Cintaku pada
indah ku dan kamu,
Seperti pintu bambu
yang berisik.
Indah mu kerap
meneteskan air mata
indahmu menghasut
kenari takut hilang dahan,
pohon hilang rindang,
tapi...
indahmu Candu
dalam hatiku.
Buatmu, kamu,
engkau.....

Tidak ada komentar:
Posting Komentar