Senin, 06 Maret 2023

“INDAH MU CANDU”


By: Nasruddin Natsir

Sepanjang ini jejak masih antara awang-awang

Sajak tentang bahagia masih pula pada ujung kata yang meleleh dalam tenggorokan.

Desir ombak pantai dikala pagi nempel sampe pipi saja,

Hati belum terhembus.

Aku menamai diriku keindahan pada jejak paras grafiti di tiap dinding tembok tol.

Tapi aneh!

Penamaan itu buatku benci pada indahku dan indah mu.

Ku paksa berpaling dari tatap yang menempel dalam syahwat cinta ku pada keindahan.

Suatu waktu berdiam dalam kumbara

Aku renung,

khusyuk Aku,

Aku nyepi.

Sebagian aku temukan racun melukai hati,

Dada bergetar mengejar irama beduk pawai tujuh belasan.

Sebagiannya kutemukan semerbak kembang mekar musim semi.

 

Adakah jawaban yang dapat menerangkan keindahan melahirkan perih

Badanku hilang berat

Menguap di awang-awang,

Tolong hentikan lekuk pada belokan,

Belokan jangan lagi berbelok,

Aku ingin terus memandang lurus,

Kelopak mata akan aku lepas sebab dia menjadi penghalang pandang pada keindahanku dan kamu.

Cintaku pada indah ku dan kamu,

Seperti pintu bambu yang berisik.

 

Indah mu kerap meneteskan air mata

indahmu menghasut kenari takut hilang dahan,

pohon hilang rindang,

 

tapi...

indahmu Candu dalam hatiku.

Buatmu, kamu, engkau.....

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...