Senin, 16 Januari 2023

Barong itu

 By. Nasruddin Natsir


Anakku hari ini kita makan singkong saja.
Beras dalam pedaringan kita irit biar bisa ke balik bulan.

Jangan tanya, mengapa makan hari ini cuma singkong.
Jangan tanya,  mengapa beras belum berganti.
Jangan tanya,  kemana gaji sebulan ini.
Jangan tanya Buyung tunjangan buat keluarga.

Upah dari raja dibagi kepada tuan puan.
Ibah rasa melihat wajah melas,
Hartanya belum genap seratus!
Tunjangan dari Raja disumbangkan buat kawan yang di atas.
Mereka dilanda dahaga padang pasir.

Setiap usai purnama perompak menghadang di lepas pantai
Rompak berbadan kekar,
Tangannya kuat mencengkram,
Kulitnya kebal tak tembus peluru.
Hatinya subur tersemai kutil.
Punya keahlian menjumlah dan mengali luar biasa.
Tiga kurang satu ternyata empat.
Setiap kata dari mulutnya tidak bisa saya balas kecuali "Iya, iya, iya, iya, iya".

Oh, iya!
Namanya Barong.
Belum pernah dia menyapa wajahnya.
Apalagi mengecap liur,
Syahwat selalu mekar.
Membara cermin mantul pada jalan siang terik.

Anakku!
Kalau kamu risau pasti kamu ateis.
Mereka cuma sekelebat,
Tidak akan sampai seberang.
Kalau kamu amarah pasti kamu iblis.
Jangan tambah kumpulan binasa.
Sudah bau longgok petilasan.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...