Senin, 19 September 2022

Sepotong Roti

Sudah petang raga belum juga tiba di gubuk.

Larut makin larut, jalan perlahan sepi ditinggal penghuni.

Bising melodi kenalpot mulai pulas terdiam dalam garasi.

Bagaimana ini?
Dalam gubuk menanti bini dan adik kecil.

___________

Jajanmu hari ini adalah duit yang terselip dalam saku celana.
Sepotong roti yang kalian nikmati hasil ngutang dari kedai sebelah.
Angka jutaan yang kau saksikan dalam kertas upah bulan ini,
Habis aku sumbangkan kepada rentenir; konglomerat; dan tuan besar.
Mereka harus aku beri makan agar Krakatau 'tak menggerutu.

Jangan risau sayang, sepotong roti lebih dari cukup buat kalian berdua.
"Tidak perlu pikirkan lambungku."
Sudah kenyang sampe buncit terlihat.
Tadi saat di kedai,
Bapak bersafari menahanku larut dalam obrolannya.
Beliau menyuapi aku dengan indah mimpi, angan tinggi.
Keadilan, kesejahteraan, dan haru biru masa depan lihai dia racik jadi gado-gado cita rasa legit.
Bapak itu baik betul, dia terus menyuapiku sampai aku bersendawa kekenyangan.

________________

Bersyukurlah sayang....
Sepetong roti ini meski hasil ngutang tapi dia asli gandum, halal, bukan hasil nyerempet.
Rasa cokelat juga asli dari bahan asli,
Bukan pemanis buatan lima tahunan.

Pergilah keperaduan,
Sumbangan kita bulan ini dan bulan lalu dan bulan akan datang dan bulan-bulan ke depan.
Jadi penghapus titik hitam lembaran kita.
Akan jadi tabungan berbunga kelak di hari perhitungan.



Oleh: Nasruddin Natsir

1 komentar:

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...