Kapan kau berubah?
sudah senja memerah di ujung timur.
hari sudah pelan sendu dari pancaran matahari.
Bukankah petang pertanda datang menjemput esok menjadi hari ini?
coba kau perhatikan, hijau daun kenari yang lebat satu persatu menguning lalu berguguran menabur menutup bumi.
kisah kita memang sperti lorong panjang yang belum nampak batas
arahpun masih sering bias
padahal lorong ini tidak bercabang,
tidak juga buntu.
pikiran sering berulah munculkan cabang imaji dalam setipa perjalanan menapak jalan.
seolah jalan pun turut bercabang.
Kapan berubah?
perlu kamu pahami dalam hati ini tidak tertulis kata lelah.
menunggu mata mu melihat bahagia bukan benda,
berhenti menghitung bahagia gunakan aljabar.
lihatlah dengan seksama,
kutilang menghibur pagi dengan suara merdu.
mereka tampak bahagia walau sepeserpun upah tidak mereka terima.
waktu yang aku habiskan menunggu bukan sia-sia
Aku menikmatinya,
umpama seruput kopi pagi hari.
Kapan berubah?
duduklah bersama ku,
kita tunggu siang membenamkan matahari.
Kita sudah lelah berjalan menyusuri pagi sampai di sini.
Buah sudah mulai ranum sudah waktunya dipetik.
Kita nikmati manisnya sepiring berdua.
Kapan berubah?
Aku ikhlas menunggu!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar