Selasa, 20 September 2022

KAPAN BERUBAH!?

 Kapan kau berubah?

sudah senja memerah di ujung timur.

hari sudah pelan sendu dari pancaran matahari.

Bukankah petang pertanda datang menjemput esok menjadi hari ini?

coba kau perhatikan, hijau daun kenari yang lebat satu persatu menguning lalu berguguran menabur menutup bumi.


kisah kita memang sperti lorong panjang yang belum nampak batas 

arahpun masih sering bias 

padahal lorong ini tidak bercabang,

tidak juga buntu.

pikiran sering berulah munculkan cabang imaji dalam setipa perjalanan menapak jalan.

seolah jalan pun turut bercabang.


Kapan berubah?

perlu kamu pahami dalam hati ini tidak tertulis kata lelah.

menunggu mata mu melihat bahagia bukan benda, 

berhenti menghitung bahagia gunakan aljabar.

lihatlah dengan seksama,

kutilang menghibur pagi dengan suara merdu.

mereka tampak bahagia walau sepeserpun upah tidak mereka terima.


waktu yang aku habiskan menunggu bukan sia-sia

Aku menikmatinya,

umpama seruput kopi pagi hari.


Kapan berubah?

duduklah bersama ku,

kita tunggu siang membenamkan matahari.

Kita sudah lelah berjalan menyusuri pagi sampai di sini.

Buah sudah mulai ranum sudah waktunya dipetik.

Kita nikmati manisnya sepiring berdua.


Kapan berubah?

Aku ikhlas menunggu!








Senin, 19 September 2022

Sepotong Roti

Sudah petang raga belum juga tiba di gubuk.

Larut makin larut, jalan perlahan sepi ditinggal penghuni.

Bising melodi kenalpot mulai pulas terdiam dalam garasi.

Bagaimana ini?
Dalam gubuk menanti bini dan adik kecil.

___________

Jajanmu hari ini adalah duit yang terselip dalam saku celana.
Sepotong roti yang kalian nikmati hasil ngutang dari kedai sebelah.
Angka jutaan yang kau saksikan dalam kertas upah bulan ini,
Habis aku sumbangkan kepada rentenir; konglomerat; dan tuan besar.
Mereka harus aku beri makan agar Krakatau 'tak menggerutu.

Jangan risau sayang, sepotong roti lebih dari cukup buat kalian berdua.
"Tidak perlu pikirkan lambungku."
Sudah kenyang sampe buncit terlihat.
Tadi saat di kedai,
Bapak bersafari menahanku larut dalam obrolannya.
Beliau menyuapi aku dengan indah mimpi, angan tinggi.
Keadilan, kesejahteraan, dan haru biru masa depan lihai dia racik jadi gado-gado cita rasa legit.
Bapak itu baik betul, dia terus menyuapiku sampai aku bersendawa kekenyangan.

________________

Bersyukurlah sayang....
Sepetong roti ini meski hasil ngutang tapi dia asli gandum, halal, bukan hasil nyerempet.
Rasa cokelat juga asli dari bahan asli,
Bukan pemanis buatan lima tahunan.

Pergilah keperaduan,
Sumbangan kita bulan ini dan bulan lalu dan bulan akan datang dan bulan-bulan ke depan.
Jadi penghapus titik hitam lembaran kita.
Akan jadi tabungan berbunga kelak di hari perhitungan.



Oleh: Nasruddin Natsir

Kamis, 01 September 2022

Cukup Allah Lawannya

Buat apa ada rumah jika ternyata tidak bisa menaungi?

Dikala hujan kuyup semua penghuni
Di saat terik matahari semua kepanasan bukan kepalang
Ketika angin berhembus tulang gemeretak kedinginan.

Buat apa ada rumah bila tiangnya tak menyokong
Gemetar menahan beban penghuni
Letoy terus tertekuk bersujud.

Apa guna dinding dari ulin bila tidak mampu menahan punggung bersandar.
Kiri kanan rampok mudah menembus

Untuk apa rumah diberi tangga
Bila jalan ke puncak curam dan terjal 

Untuk apa ada pintu di rumah?
Jika pemilik tak punya kuasa menutupnya

Tetapi siapakah yang berani pergi keluar?
Diluar sana bahyak pemangsa yang buas

Diamlah dan berdiamlah
Zaman sudah di penghujung
Dajjal sudah bersendawa

Asal aqidah tidak terusik
Biarlah Allah lawan mereka.

Belajarlah ikhlas meski pahit
Telan jangan muntahkan.

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...