Terus saja risau betul kita pada waktu Bukankah waktu itu hanya dua sepasang kekasih yang kasmaran.
Siang berjalan menuju malam
Malam menuju pagi
Ternyata mereka saling mengunjungi
Padahal nampaknya sepertti saling menjauhi
Mereka seolah 'tak pernah bertemu
Padahal mereka bersaling dekap mendekap dalam temu
Malam didekap pagi
Sebutlah dia siang.
Sore didekap malam
Sebutlah dia malam.
Mereka saling setia pada janji ijab qabul sejak awal.
Sungguhlah merekalah pasangan sejati setia,
Tidak saling menyakiti sesiapa
Dalam rindunya,
Pada janjinya,
Di ubun-ubun harap mereka.
Mereka tidak seperti Romeo dan Juliet yang dikepung nestapa
Kesudahan dirampas setia semu oleh belati fatamorgana
Siang mana pernah iri pada malam terhadap batasnya
Sebab batas mereka hanya pertemuan tanda perpisahan.
Aku kagum pada romansa mereka
Pada perjalanan siang gantikan malam mayapada
begitu lembut menarik malam sampai kita 'tak tahu batas jelas kapan malam benat-benar lelap di peraduan.
Kala sudah terang siang, malam tetap sisakan gelapnya dalam gua-gua ditepuk-tepuk jemari siang dari cela langit.
Siangpun demikian menyisakan sedikit terang jaga malam tetap pada poros.
Siang sisakan terang pada lantera pejalan subuh menuju surau.
Terangkan pematang, setapak jalan hamba temui Tuhan satu.
Almanak menua tapi malam dan siang tetap segar 'tak lekang oleh zaman
Mereka sepasang pengantin
Selalu bersemi, bersua lalu saling mendekap membatin.
Meski kuceritakan romansa pengantin siang dan malam dalam jutaan bait
resah dan risau tetap hadir dalam benak.
Selama hasrat pada fana belum bertarikat.
Pastilah badan gusar serupa air di daun keladi.
By: Nasruddin Natsir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar