Selasa, 21 Desember 2021

Kata Kata 'Ku. Mu

Kata ini adalah kata kata.

Bukan kata
Jika tidak dikata-katakan.
Balas kata ku dengan kata-kata
ditata dalam banyak kata kata, ‘tak terbata-bata.
Kata kata jangan melata
Bikin mata memerah karena kumuh kata katamu
Kata katai saja setiap kataku
Meski kata kata mu membului 'ku

Kata!

kata 'ku?

Kata 'mu!

Kumat-kamit berimpit jungkit

Dasar kau tukang ungkit

Bukit di bilik, gunung kata-katamu


Ku balas katamu dengan kata-kata sepandang rasa

Aku akan katakan!

 

 

Rabu, 15 Desember 2021

Pantaskah!?

 


Waktu kini musuhku

Tak mau lengah endap-endap
‘ku sumpal tenggorok bisu senyap.
Cegat waktu biar ‘tak lelap

Mawar itu. kumbang berarak
Renggut merenggut seperti balapan
‘tak siapa duduk belakang terus merangsek
Pikat mawar kumbang kasturi jimat pikat

Pinang mawar sutra emas berlian,
Adu jantan kumbang pamer pamor isi baki

Aku diam mengawasi
Di tanganku Qur’an seperangkat sembahyang
Alasnya jemari, telapak telanjang bukan bangsawan

Semua pandang tajam menghujam
Padaku, waktu jadi musuh

Pantaskah mawar membiak di hitam tanah berlumpur
Tinggalkan Adn bawahnya sungai mengalir tak berlumpur

Di mataku menari senyum kecut para pangeran,
Waktu turut mencibir badan hina telanjang harta.
Tapi aku sudah bebal biar kucoba saja.
‘Ku pantaskan nawaitu kerna Lillah sahaja.

Pada waktu menyerah sungkan aib sampai kiamat
Kerna aku talang pati ingin pantaskan petik mawar.
Maharnya Qur’an seperangkat sembahyang

By: Nasruddin Natsir

Selasa, 14 Desember 2021

Risau Pada Malam dan Siang

 


Terus saja risau betul kita pada waktu

Bukankah waktu itu hanya dua sepasang kekasih yang kasmaran.
Siang berjalan menuju malam
Malam menuju pagi

Ternyata mereka saling mengunjungi
Padahal nampaknya sepertti saling menjauhi
Mereka seolah 'tak pernah bertemu
Padahal mereka bersaling dekap mendekap dalam temu

Malam didekap pagi
Sebutlah dia siang.
Sore didekap malam
Sebutlah dia malam.
Mereka saling setia pada janji ijab qabul sejak awal.

Sungguhlah merekalah pasangan sejati setia,
Tidak saling menyakiti sesiapa
Dalam rindunya,
Pada janjinya,
Di ubun-ubun harap mereka.
Mereka tidak seperti Romeo dan Juliet yang dikepung nestapa
Kesudahan dirampas setia semu oleh belati fatamorgana

Siang mana pernah iri pada malam terhadap batasnya
Sebab batas mereka hanya pertemuan tanda perpisahan.

Aku kagum pada romansa mereka
Pada perjalanan siang gantikan malam mayapada
begitu lembut menarik malam sampai kita  'tak tahu batas jelas kapan malam benat-benar lelap di peraduan.
Kala sudah terang siang, malam tetap sisakan gelapnya dalam gua-gua ditepuk-tepuk jemari siang dari cela langit.
Siangpun demikian menyisakan sedikit terang  jaga malam tetap pada poros.
Siang sisakan terang pada lantera pejalan subuh menuju surau.
Terangkan pematang, setapak jalan hamba temui Tuhan satu.

Almanak menua tapi malam dan siang tetap segar 'tak lekang oleh zaman
Mereka sepasang pengantin
Selalu bersemi, bersua lalu saling mendekap membatin.

Meski kuceritakan romansa pengantin siang dan malam dalam jutaan bait
resah dan risau tetap hadir dalam benak.
Selama hasrat pada fana belum bertarikat.
Pastilah badan gusar serupa air di daun keladi.


By: Nasruddin Natsir



Senin, 13 Desember 2021

Move On


 

Sunyi  mengalir malam dermaga
Tegak badan  berdiri kaku seperti mati hilang jiwa
Hambar liur aingin mengirim kabut
Rongrong teguh menanti layar melabuh
Layar sobek takluk dalam sinis hembusan angin
Hati dipeluk laut
Melarung cita jauh dari tepi

Hati jangan mati,
Rasa lepas nelangsa,
Jiwa cerailah tidak dengan raga

Yang menunggu pergi pada pagi,
Harapan pasti hangat di sana
Biarkan sauh baru melabuh di dermaga
__________
Sekar lalu mekar semerbak hilang dahaga.

Sunyi mengalir malam dermaga
Lepas pergi yang lalu,
Temperau larung dalam palung ,



Kubur di sana larut tak bertubah.


Senin, 06 Desember 2021

Lupa Pada Lelah


 Dalam deras hujan menghujam bumi

Anak kecil dengan topi krucut kuyup dihuguyur hujan,
Dia berlari kecil,
Langkahnya membelah lumpur  setapak
Sesekali badan kecil terhempas dalam  lumpur
Segera bangkit tak cengeng menanti uluran tangan
Semangatnya hangatkan dingin hujan kala itu.
Si ibu mengikut dari belakang,
Ditenteng keranjang sayur panen dari kebun pagi tadi
Kepalanya ditimpakan seikat kayu bakar yang turut kuyup dalam hujan
Lelah tidak menjagal semangatnya
Dia sudah lupa pada lelah.
Lupa pada nyerah.
Lupa pada desah.
Lupa pada rebah.
Ingin ditelan semua pahit hidup dan getir.

Anak kecil menyeru ibunya,
Turut berlari tinggalkan hujan,
Wajahnya memelas agar ibu segera bergegas,
Mungil bibir bergetar, pucat kedinginan
Ternyata si bocah ibah lihat ibu dikepung hujan.

Lihat buah hatinya...
Air mata tumpah  di pipi.
Dalam hati tidak rela buah hati berkubang lumpur sudra

Air matanya kian menderas
Dengar buah hati tanya kabar tentang ayah,
Dengar buah hati panggil ayah minta digendong.
Hatinya membisik jiwanya
"Nak, dulu hujan tak sederas ini",
"Dulu, hidup tak sepahit ini"
Di akhir perjalanan pulang,
Buah hatinya digendong bersama bawaanya,
Lalu ditunjuk gundukan tanah bernisan.
"Nak, Ayah di sana tersenyum melihat kita"
"Ayah bangga melihatmu dari sana"
___________ Kau buah hati ku dan Kami!


Nasruddin Natsir

Rabu, 01 Desember 2021

HARAP


 Semenjak siang hampir senja

Jalan lalu hendak ulang pada semula

Menata pada bait apik, mungkin bahagia


Terlalukah sesal ujung senja?

Pada bayang empat sekawan

'Tak menjauh lekat badan jiwa hampa


Hendak kawinkan jingga Timur; Barat

Asalkan rasa terburai tidak

Dinyanyikan lolong serigala pilu memapat sesak


Aku takut jingga memerah 

Mengalir darah kelopak sendu sembap

Tersedu sedak gagap tata kata terbata


Menanti harap semua merapat

Nelangsa mengabur tunggu terkabul


Nasruddin Natsir

#cakra99nat

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...