Penghujung September lawakan baru saja dimulai
Ceritanya tentang negri kaya di belantara.
Kisahnya tentang Tuan jadi hamba
Rakyat dibela penyamun rimba.
Kepalanya suruban
Tangannya tasbeh
wahyu dilidahnya tumpah membusa putih
Lawakan penyamun menggila gelinya
Rakyat miskin dalam angka drastis menurun
Tapi kolong jembatan ramai perkampungan.
Moral dipancar dari istana sampe udik
Tapi bansos malah digasak.
Hukum jadi pamungkas tak pandang bulu?
Tapi meja hijau hajar copet lima tahun,
Koruptor satu tahun potong masa tahanan.
Katanya semua buat rakyat negeri!
Tapi rakyat terusir dari tanah sendiri
Katanya kerja tak perlu pamrih!
Nyatanya rekening makin gendut,
Dan rakyat tambah melarat
Siapa memgajarkan moral negeri ini?
Begal bebas seperti laron berdesak dari liang.
Kebebasan dibegal
di jalanan, di kampus, di tempat ibdah
Bahkan dalam mimpi dan fikiran begal bebas melatah
Moral macam apa yang kalian ajarkan?
Melihat ibu menggendong bayi
Yang tak bisa lelap karena lapar.
Air susu mengering diperah kaki tangan penyamun.
Suami pulang rumah dengan tangan kosong
Kerja sulit ditemuinya.
Amat sukar katanya.
Semua lowong terisi penuh tak tersisa
buruh bangunan pun tidak dapat didapatnya
Padahal dalam tas kusam dibawanya selembar kertas sarjana
Empat tahun kertas secarik diperjuangkan di universitas ternama
Ternyata kalah tarung, tukang batu import dari negeri barbar raya
Siapa?
Siapa!
Yang ingatkan negeri bahwa merdeka betul kita
Yang pastikan bahwa kita bukan budak di tanah sendiri
Yang mengabdi seperti sumpah di bawah kitab
Yang takut pada tuhan bukan pada begal biadab
Yang haus keadilan bukan jabatan.
Yang nafasnya wangi
Yang keringatnya semerbak
Yang hatinya ada dalam raga tidak di jemuran istana.
Panggung belum selesai
Pentas baru mulai
September bulan ke tiga belas!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar