Kita belum benar-benar menghangat
Satu riak hancurkan hening damai.Senyum hanya lukisan kanvas
Basi, bisu, beku!
Muak aku muncak.
Kita tidak pernah begitu dekat
Menyatukan nafas biar seirama.
Jarak pandang terus terhalang kabut
Lupa aku ayu paras mu, lepas mengabur
Kalau 'ku ingat lagi langit sebelum mendung.
Di stasiun kereta pagi itu,
Yakin benar kutanam dalam hati bahwa badai tidak pernah bisa menyapu biru langitku.
Tiba pada batas ini,
Aku temukanmu
Telah temukan pagi lebih hangat.
Di batas ini, ternyata biru langitku
Menghitam tersapu badai.
Yakin dulu sirna jauh melambai
Tenggelam di ujung mata sendu
Kita belum betul menghangat
Pagi bahkan tidak kita tuntaskan
Kerna siang itu cerita, usai dengan lambaian tangan.
Akhirnya riak dalangnya
Kita wayangnya
Nasruddin Natsir
Tidak ada komentar:
Posting Komentar