Sabtu, 30 Oktober 2021

RUPA HILANG PARAS

 Gelanggang hati lipu remang senja

Tua petuah. tuah hilang dikepung srigala
Lolong nyambar pecah hening malam.
Matilah riak pinggiran gelanggang.
Sorak sepi suara menepi.
Beku, bungkam pada dingin dinding jeruji.

Rupa hilang paras,
Pada malunya punah sudah lama.
Begitu datuk waktu sekarang

Pada negeriku abu-abu.
Rakyat bahagia mengabur
Hukum mengabak isi nurani

Rupa hilang paras,
Paras hilang rupa.
Malu hilang sungkan.
Jelata hilang mimpi.

Datuk bahgia di atas tangis jelata, bungkam dipinggir gelanggang.
Ratapi suram masa depan.

Minggu, 24 Oktober 2021

Menanti Hangat Pagi Bulan Juni

Saat ujung gerimis kita bertemu,
Waktu itu retak kemarau samar belum memadat.
Panasnya kering masih terasa,
Padahal hujan sudah sering turun menyapa.

Setelah gerimis benar berpaling,
Kau ajakku berjalan jenguk kembang.

Dia masih mekar, merah jambu warnanya.
Meski mahkota sobek bekas mengering.
Indahnya masih bersisa seujung runcing.

Aku tanya padanya tentang senyum kembang merah jambu,
Juga kutanyakan tentang hangatnya pagi bulan Juni.

Ternyata senyum 'tak merona merah jambu,
Hangat pagi bulan Juni jadi gerah usir hijau padang berlalu.

Aku coba janjikan unggun api padanya,
Dia terisak 'tak ingin lagi terbakar,
Dia 'tak butuh terangnya,
Tak ingin lagi menyulut harap.

Segala t'lah beku,
Dia biarkan kembang mekar tanpa kumbang.

dan____________

Ku tinggalkan saja dia.
Sebelum salju Desember melebat.
Tapi _____________
kabari aku jika pagi bulan Juni kembali menghangat!

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...