Kamis, 21 Mei 2026

Tunggu Sebulan


Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak.
Udara malam gerah padahal bukan matahari.
Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang.
Bukan kulit melepuh,
hati meredup pelan. 

Dada mengembang kempis, 

oksigen menipis terhirup berat.
Kita kenapa?

Dulu itu dulu, sudah lama.
Senda gurau panjang menenangkan,
cerita bertukar tanpa embel-embel.
Apakah itu hilang?

Aku mencari.
Dari sudut mata kalian aku cari redup persahabatan—
ada, tapi kabur.
Dari bibirmu aku cari, tapi pengecap hambar.

Aku gamang.
Masihkah aku dan kalian saling mengenal. 
Sahabat berteman seperti berai.


aku menghela napas panjang getir.
Kamu datang dengan mata nanar,
menenteng setumpuk kertas hutang yang belum terbayar.
Ya, betul.
Itu struk tagihan panjang belum lunas.

Kalian malu, katanya,
sebab aku belum juga merogoh kocek.
Lupakah kalian bahwa kalian punya rasa?

Kita sama.
Di pasar penjual kain meminta ukuran baju,
bukan ukuran orang lain.
Agar tak salah mengukur,
pakailah ukuran sendiri.

Aku belum menyerah.
Tapi sekali ini kocek belum terisi—
mungkin sepekan atau sebulan lagi.
Seperti rentenir mendesak,
enggan pulang sebelum tas penuh rupiah.

Aku ini sahabatmu.
Kita di bawah atap yang sama.
Lupakah kalian pada persajakan ini?
Malukah kalian pada kawan miskin ringkih?

Jika demikian,
tiliklah kepulan asap dapur di rumah.
Tiupannya lesu, tidak menggumpal.
Malu yang kau rasa, biar kuganti sekilo beras atau sejumput ubi.
Sampaikan kepada tuanmu: selain itu,
yang tersisa hanya segumpal rasa malu.

Rupiah yang kalian cari sungguh belum cukup.

Kawanku,
maafkan aku
telah berani berdiri di sisimu
dalam keadaan renyah.

Senin, 18 Mei 2026

Pattiro Deceng

 

PATTIRO DECENG

Karya: Nasruddin Natsir

                                                                                                                        

(Sebuah Dongeng dari zaman dahulu kala)

 

Di lereng sebuah bukit di Tanah nan subur, hiduplah seorang pemuda bernama  Jamalu  bersama ibunya,  Indo' Saga . Mereka tinggal di sebuah rumah panggung sederhana yang atapnya terbuat dari daun rumbia yang sudah mulai lapuk. Setiap hari Jamalu bekerja serabutan—memikul air dari sungai, menyabit rumput untuk dijual, menggali ubi di kebun orang—namun pundi-pundinya tetap kering kerontang.

Yang paling menyiksa hati Jamalu bukanlah rasa lapar, melainkan  iri. Ia iri melihat La Ugi, teman sekampungnya yang punya kebun kelapa luas dan sawah yang menguning. Ia iri kepada We Tenri, gadis sebaya yang perhiasan emasnya gemerlap setiap pergi ke pasar. Ia iri kepada hampir setiap orang yang rumahnya beratap seng atau sirap, bukan rumbia seperti miliknya.

 "Ya Puang Allah Taala, kenapa aku dilahirkan miskin? Kenapa hidupku begini-begini saja?" keluhnya suatu senja di tepi sungai, sendirian.

Kegalauan itu membawanya ke bawah pohon beringin tua—pohon keramat yang oleh warga kampung dianggap angker. Tanah di sekitarnya gersang, tidak ada burung yang berani bersarang di dahannya, dan udara di tempat itu terasa lebih dingin dibandingkan tempat lain.

Jamalu duduk termenung di pangkal akar pohon itu. Tiba-tiba, angin berputar seperti pusaran. Dari balik akar-akar pohon yang menjuntai hingga menyentuh tanah, muncullah seorang kakek. Wajahnya keriput seperti tanah kering di musim kemarau. Matanya merah samar, seperti bara yang hampir padam. Jari-jarinya panjang dengan kuku kecoklatan, dan ia memakai baju hitam lusuh. Namun yang paling mengerikan adalah senyumnya—senyum yang seolah-olah tahu semua rahasia Jamalu.

Bulu kuduk Jamalu merinding. Ia ingin lari, tetapi kakinya seperti tertanam ke tanah.

 "Magapa kamu lari? Magapa kamu takut, wahai anaku muda?"  suara kakek itu berat, seperti batu yang digesekkan satu sama lain.  (Mengapa engkau lari? Mengapa engkau takut?)

Jamalu menggigit bibir. Nafasnya kembang-kempis. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.

"Ka... kamu dari mana muncul tiba-tiba?" ucapnya terbata. "Apa kamu penunggu pohon beringin keramat ini?"

 "Hus... jangan takut,"  kata kakek itu sambil menyeringai.  "Aku melihatmu dari tadi gelisah. Ada apa denganmu, anaku muda?"

Jamalu mencoba menenangkan diri, namun suaranya tetap parau seperti katak kehabisan air.

"Saya memang gelisah, Kakek. Saya pusing. Hidup saya susah. Saya iri melihat orang-orang sekeliling saya yang kehidupannya penuh kenikmatan. Mereka bahagia karena memiliki harta yang banyak!"

Kakek misterius itu tertawa pecah. Suaranya terbahak-bahak, berat dan menggelegar seperti guntur jauh di langit.

 "Huahahahaha... masalahmu itu masalah kecil, anaku muda! Masalah yang sangat mudah diselesaikan. Remeh temeh!"

Jamalu ragu. Namun rasa penasaran dan hasrat akan kekayaan mengalahkan ketakutannya. Ia mendekat selangkah—masih tegang, masih merinding.

"Kakek tua renta... lihat dirimu sendiri," kata Jamalu setengah merendahkan. "Kakek tampak renta dan miskin. Kayaknya tidak punya apa-apa. Masa kakek bisa membantu saya?"

Seketika mata kakek itu menyala seperti bara api. Tatapannya tajam menusuk.

 "Jangan merendahkan, anak muda. Aku bisa membantumu... jika kamu mau."

Jamalu menelan ludahnya yang terasa pahit.

 

"Apa yang bisa kakek lakukan untuk saya, jika kakek memang benar-benar bisa membantu saya?"

Kakek itu mendesis pelan, seperti ular sanca yang siap menerkam mangsanya.

"Jika kamu mau, datanglah ke gubuk di pinggir sungai bercabang. Ikuti aliran sungai pinggir pohon beringin ini. Setengah hari perjalanan, kamu akan sampai di sana. Di gubuk itulah aku menunggumu."

Sebelum Jamalu sempat bertanya lebih lanjut, kakek itu lenyap seperti kabut yang diterpa angin timur. Yang tersisa hanyalah wangi dupa aneh dan dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang.

Jamalu pulang ke rumahnya dalam keadaan pucat pasi. Indo' Saga yang sedang menumbuk cabai di dapur belakang rumah panggung langsung curiga melihat wajah anak semata wayangnya.

"Nak Jamalu, kamu pucat sekali. Dari mana saja kamu?" tanya Indo' Saga dengan logat yang khas.

Jamalu menceritakan semua yang baru saja dialaminya. Wajah Indo' Saga berubah keras. Tangannya yang sedang menumbuk cabai berhenti. Ia meletakkan ulekan batu dan duduk di depan anaknya.

"Nak Jamalu, dengar baik-baik nasihat indo'mu," kata Indo' Saga dengan suara berat. "Hati-hati dalam berguru. Jangan mudah percaya kepada orang baru yang baru kamu kenal, apalagi jika orang itu tiba-tiba bersikap baik kepadamu."

"Tapi, Ma..." Jamalu mencoba memotong.

"Diam dulu, Nak, biar indo' selesaikan," potong Indo' Saga tegas. "Sudah banyak kejadian di kampung Bugis ini. Orang-orang yang tergiur janji kekayaan dari orang tak dikenal—bukannya menjadi kaya, malah hidupnya sengsara. Karena salah berguru, ada yang berubah menjadi ngepet . Ada yang menjadi  siluman . Ada yang menjadi  parakang  seperti yang sering diceritakan para orang tua terdahulu kampung kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan keluarganya sendiri sebagai tumbal. Jangan, Nak. Harta bukanlah ukuran bahagia. Semakin engkau bersyukur kepada Puang Allah Taala, semakin engkau bahagia. Jangan iri pada kehidupan orang lain!"

Jamalu hanya terdiam. Ia menunduk, tidak berani membantah. Namun dalam hatinya, bara iri itu belum padam. Malah semakin membara.

Keesokan paginya, sebelum matahari terbit dari ufuk timur, Jamalu pergi tanpa pamit kepada ibunya. Ia kembali ke bawah pohon beringin keramat itu, lalu menyusuri sungai di sampingnya. Air sungai itu keruh dan dingin, dedaunan di tepinya tampak layu meskipun saat itu bukan musim kemarau.

Setengah hari perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki menembus semak belukar dan hutan bambu. Akhirnya tibalah ia di percabangan sungai. Di tepi percabangan itu, berdiri sebuah gubuk bambu yang sudah reot. Tidak ada jendela, beratap daun kelapa yang sudah hitam dan berlubang-lubang. Gubuk itu tampak angker dan menyendiri di tengah hutan yang lebat.

Jamalu mendekati gubuk itu dengan langkah gontai. Belum sempat tangannya mengetuk pintu kayu yang sudah lapuk, suara dari dalam membuat bulu kuduknya berdiri.

"Masuklah, anaku muda... jangan takut. Sudah takdirmu sampai di sini. Aku sudah lama menunggumu."

Jamalu menarik napas panjang, lalu mendorong pintu gubuk itu. Di dalam, gubuk itu gelap, hanya diterangi satu lampu pelita yang menyala redup. Kakek misterius itu duduk bersila di atas tikar anyaman pandan yang sudah usang. Matanya berbinar senang, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.

Kakek itu menunjuk ke sebuah bilik kecil di sudut ruangan.

"Masuk ke dalam bilik itu,"  perintahnya.

"Mengapa saya harus masuk ke bilik itu, Kakek?" tanya Jamalu dengan suara setengah bergetar.

Kakek itu tersenyum, namun matanya tetap dingin dan tidak ikut tersenyum.

"Kesepakatan hari ini adalah: kamu harus melakukan apa yang aku perintahkan. Jangan pernah menolak. Jangan pernah bertanya. Kamu sudah tidak bisa mundur lagi."

Jamalu ragu-ragu. Namun kakinya seperti didorong oleh angin gaib. Ia masuk ke dalam bilik kecil itu.

Begitu masuk ke dalam bilik, Jamalu terkejut setengah mati. Di lantai tanah yang lembap, terhampar berbagai macam kembang setaman: mawar merah, kenanga, kantil, melati putih, dan sedap malam. Di tengah-tengah rangkaian kembang itu, terdapat nasi ketan tujuh warna tersusun rapih dalam tapis anyaman.

"Duduklah di antara kembang dan ketan itu,"  perintah kakek dari balik dinding bilik.  "Pejamkan matamu. Jangan bergerak. Nanti aku beri instruksi."

Kakek itu mendesis tertawa pelan.

"Ssst... jangan banyak gerak, anaku muda."

Jamalu mendengar suara korek api digoreskan. Lalu bau dupa yang menusuk hidung mulai menyesak masuk ke rongga hidungnya. Asap mengepul keluar dari celah-celah dinding bambu. Kakek itu mulai duduk bersimpuh dan membaca mantera-mantera dengan suara parau sambil menaburkan bunga ke atas dupa yang penuh asap.

Suasana menjadi sunyi begitu pekat. Hening. Senyap. Hingga Jamalu hanya bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang.

Tiba-tiba, dari balik dinding kamar tempatnya duduk, terdengar suara lain. Bukan suara kakek tua itu. Suara itu serak dan berat, seolah keluar dari dalam tanah.

"Wahai anaku muda... bukalah matamu."

Jamalu mengerjapkan mata.

"Iya, Kakek, saya sudah membuka mata saya. Apa yang selanjutnya harus saya lakukan?" tanyanya.

"Tatap dinding depanmu. Apa yang kamu lihat? Ceritakan!"  perintah suara itu.

"Saya hanya melihat dinding kamar yang usang, Kakek. Tidak ada apa-apa," jawab Jamalu polos.

Kakek itu tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar dingin dan menyebalkan.

 "Pejamkan kembali matamu. Dan ikuti mantera ku."

Kemudian kakek itu membaca mantera pelan dalam bahasa Bugis kuno, dan Jamalu mengikutinya kata demi kata:

  "Kita pakkitakku, sitarru lattu ati,

   sitarru bulawang na salaka,

  sugi sugi polemaki mai ku karipiko..."

 

Tubuh Jamalu bergetar hebat. Dadanya sesak. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap masuk ke ubun-ubun kepalanya, menjalar ke seluruh tubuh, lalu bersarang di dalam dadanya.

 "Jamalu... sekarang buka matamu. Apa yang engkau lihat?"  desak suara itu.

 Jamalu membuka matanya perlahan. Tiba-tiba ia menjerit kecil.

 "Ka... Kakek! Saya bisa melihatmu! Saya bisa menembus dinding ini!"

 Kakek itu tertawa puas. Namun Jamalu belum selesai.

 "Apa lagi yang kau lihat?" tanya kakek cepat.

"Sa... saya bisa melihat jantung dan hatimu, Kakek tua!" suara Jamalu bergetar hebat. "Jantungmu... hitam seperti arang! Dan di dalam hatimu... ada puluhan wajah yang menjerit!     Wajah-wajah yang ketakutan!"

 Saat itulah kakek tua itu pecah tertawa. Ia tertawa puas, puas sekali.

 "Huahahahaha... manteramu telah menyatu dengan dirimu, wahai Jamalu! Sekarang tunggulah... kekayaan akan menghampirimu. Kamu akan menjadi sangat kaya raya. Tidak lama lagi!"

 Jamalu pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk—antara takut, senang, dan penasaran. Ia tidak menceritakan detail ritual itu kepada Indo' Saga. Ia hanya diam.

 Setahun berlalu. Kehidupan Jamalu berubah drastis. Tiba-tiba ia memiliki uang berlimpah. Sawah, kebun kelapa, kerbau, emas, perhiasan yang indah, semua ada. Bahkan ia mampu memperbaiki rumah panggung ibunya menjadi rumah kayu ulin yang kokoh. Indo' Saga heran dan bertanya berkali-kali, namun Jamalu selalu mengelak.

 "Syukur saja, Ma. Jamalu sedang beruntung. Rezeki datang dari mana-mana," jawabnya selalu begitu.

 

Namun ada yang aneh dari diri Jamalu. Setiap malam purnama, ia tidak bisa tidur. Matanya berubah merah menyala seperti bara. Air liurnya sering meleleh tanpa disadari hingga membasahi bajunya. Ia lebih suka menyendiri dan baunya... baunya menjadi anyir seperti darah.

Indo' Saga semakin hari semakin khawatir. Hatinya tidak tenang. Setiap malam ia membakar kemenyan sambil berdoa kepada Puang Allah Taala.

Suatu malam, di awal bulan purnama, Jamalu yang sedang duduk di beranda rumah mencium bau yang sangat harum. Wangi nangka masak. Wangi yang sangat mengundang selera. Wangi yang membuat lidahnya bergoyang dan air liurnya mengucur deras hingga membasahi bajunya.

Jamalu berjalan terpana. Kaki-kakinya melangkah cepat tanpa arah yang jelas. Ia melewati kebun, melewati kuburan tua kampung, melewati semak belukar, sampai akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah panggung kayu. Di bawah rumah itu—tepat di kolong—ada sesuatu yang harum sekali.

Jamalu merangkak masuk ke kolong rumah itu. Matanya merah menyala. Air liurnya terus menetes ke tanah. Ia menggapai-gapai di dalam gelap, mencari sumber wangi yang sangat ia dambakan.

 

Tiba-tiba...

 

 "TOLOOOOOONG!"

Teriakan seorang perempuan memecah sunyi malam Bugis yang dingin.

"TOLONG! TOLONG! ADA MATA MERAH! ADA PARAKANG! DIA MAU MENculik ANAKKU!"

Warga kampung yang mendengar teriakan itu berhamburan keluar dari rumah masing-masing. Mereka membawa obor dari batok kelapa, parang, dan tombak bambu. Seorang ibu muda bernama   Sappe berdiri di teras rumah panggungnya sambil menggendong bayinya yang menangis histeris. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Wajahnya pucat seperti kapas.

 

"Ada apa, Sappe?" tanya seorang tetua kampung.

 

"Ada parakang, Puang!" jawab   Sappe terisak-isak. "Dia ada di bawah rumah saya! Saya melihat matanya merah menyala! Dia mengendus-endus bayi saya!"

Seketika warga mengepung rumah panggung itu. Mereka memeriksa kolong rumah dengan obor dan parang terhunus dan di bawah sana, mereka menemukan Jamalu.

Matanya merah menyala. Air liurnya membasahi seluruh dada dan bajunya yang kumal. Ia menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang meraba sesuatu.

"Itu... itu parakang!" teriak salah seorang warga.

"Bukan! Saya bukan parakang!" Jamalu berteriak ketakutan. "Magapa kamu kasa padaku?!"  (Mengapa kalian menuduhku?)

Namun warga tidak peduli. Mereka menarik Jamalu keluar dari kolong rumah dan mengikatnya dengan tali yang dibuat dari akar kayu Baluttete.

"Kenapa kalian mengikat saya?! Lepaskan! Ada apa ini?!" Jamalu meronta-ronta.

"Kamu parakang, Jamalu!" teriak seorang warga.

"Saya bukan parakang!"

 

"Matamu merah! Liurmu meleleh membasahi badanmu! Kenapa kamu bisa berada di kolong rumah   Sappe jam segini malam?!" tanya warga lainnya siap dengan parangnya.

Jamalu menggigil. "Saya... saya hanya ingin mengambil nangka masak itu! Aromanya wangi sekali! Sangat menggugah selera makan!"

Semua warga yang mendengar perkataan Jamalu terdiam seketika. Suasana menjadi sunyi senyap. Hanya suara jangkrik dan detak jantung mereka yang terdengar.

Kemudian seorang tetua kampung—La Patau—berbicara dengan suara lirih namun tegas.

"Jamalu... di rumah   Sappe tidak ada pohon nangka. Yang ada... bayinya yang perempuan, yang baru saja dilahirkan tiga hari yang lalu."

Wajah Jamalu berubah biru. Ia terdiam. Air liurnya berhenti menetes. Matanya yang merah perlahan-lahan berubah menjadi sayu dan penuh ketakutan.

"Itu bukan nangka, Jamalu," lanjut Puang Pajaga. "Itu bayi manusia. Karena engkau salah berguru... engkau sudah berubah menjadi  parakang ."

"Tidak... tidak mungkin..." bisik Jamalu lirih.

 

"Sudah banyak kejadian seperti ini di kampung kita," kata Puang Pajaga menghela napas. "Dulu ada pemuda yang serakah dan berguru kepada jin jahanam. Akhirnya ia jadi  babi ngepet . Ada pula yang jadi  parakang  sepertimu sekarang. Mereka yang sudah terjebak pesugihan sesat, tidak bisa lagi hidup normal. Mereka akan terus lapar... tidak lapar nasi, tetapi lapar terhadap bayi yang baru dilahirkan."

Jamalu lemas. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mengalir membasahi pipinya yang kotor.

Malam itu juga, warga kampung memutuskan untuk menghukum Jamalu. Mereka tidak tega membunuhnya karena ia masih manusia, tapi mereka juga tidak bisa membiarkannya tinggal di kampung. Mereka memberinya bekal sedikit, sepotong kain sarung, dan menyuruhnya pergi ke hutan, jauh dari permukiman.

Di kejauhan, Indo' Saga—ibunda Jamalu—menangis sejadi-jadinya di depan pintu rumah panggungnya. Ia tidak ikut mengepung, karena hatinya terlalu hancur. Ia hanya duduk di lantai sambil memegang sesajen dan kemenyan yang sudah siap ia bakar.

"Jamalu... anakku sayang..." isaknya tertahan. "Indo' sudah bilang... hati-hati dalam mencari guru... tapi engkau tetap pergi... oh, Puang Allah Taala, ampunilah anakku..."

Jamalu, yang mendengar isak tangis ibunya dari kejauhan, berhenti melangkah. Ia ingin berlari kembali, ingin memeluk Indo' Saga, tapi kakinya seperti tertahan oleh rasa malu yang begitu besar.

"Aku akan membuat perhitungan dengan kakek peot itu," desis Jamalu dalam hati. "Dia yang telah membohongiku. Dia yang telah menjerumuskanku."

Ia pun berbalik dan berjalan cepat menuju gubuk di tepi sungai bercabang. Namun sesampainya di sana, Jamalu terkejut. Gubuk itu sudah tidak ada. Yang tersisa hanya tumpukan bambu lapuk dan daun kelapa kering yang berserakan di tanah.

Di tengah tumpukan itu, Jamalu menemukan sebuah tengkorak manusia. Tengkorak tua dengan keriput seperti tanah kering—sama seperti wajah kakek yang dulu menemuinya.

Jamalu menjerit histeris. Ia baru sadar bahwa dirinya hanyalah tumbal dari sekian banyak korban pesugihan sesat. Kakek tua itu bukanlah manusia. Ia adalah  jin jahanam  yang telah ribuan tahun memangsa orang-orang serakah di Tanah ini.

Dengan hati remuk redam, Jamalu berjalan meninggalkan kampung halamannya untuk selama-lamanya. Ia pergi ke tengah hutan, menjauhi manusia, dan tidak pernah kembali lagi. Warga kampung kadang masih mendengar suara tangisan di malam purnama, berasal dari arah sungai bercabang. Mereka percaya itu adalah suara Jamalu yang selamanya tersesat akibat keserakahannya.

Ibu tua Indo' Saga tinggal sendirian di rumah panggungnya. Setiap malam ia membakar kemenyan dan berdoa kepada Puang Allah Taala agar dosa anaknya diampuni. Dan setiap kali ada pemuda Bugis yang mengeluh tentang kemiskinannya, Indo' Saga selalu berpesan dengan air mata:

 

"Anakku, jangan pernah menjual jiwamu hanya untuk harta. Harta bisa dicari, tapi jiwa yang rusak tidak akan pernah bisa disembuhkan selamanya. Ingatlah pepatah Bugis kita: 'Rekko taro ada taro tongeng, rekko taro gau' taro lempuk'—jika berkata, katakan yang benar, jika berbuat, buatlah yang lurus. Jangan engkau mengambil jalan pintas yang berliku-liku gelap, karena di ujungnya hanya ada neraka."

Tamat.

 

---

 

 Pesan moral:

 

Anakku dari Tanah Bugis yang pemberani, janganlah engkau iri pada kehidupan orang lain. Bersyukurlah atas apa yang kau miliki, karena syukur adalah pangkal kekayaan yang sejati. Ingatlah, tidak ada kekayaan yang pantas dibeli dengan nyawa, kehormatan, dan keselamatan keluargamu. Jika ada orang yang menjanjikan harta dengan jalan pintas yang aneh dan menyeramkan, jauhilah ia segera, karena di balik senyumnya mungkin bersembunyi parakang yang siap menjadikanmu tumbal.

Minggu, 30 November 2025

Purnama Tanpa Terang






Kemarin 'ku dengar kabar dari jauh,

Katanya matamu masih sembab,

Ujung lesung dagu masih mengalir air mata hangat.

 

Mengapa begitu?

Bukankah telah berlalu bulan separuh semangka,

Purnama yang kau tunggu sudah membulat.

 

Bukankah wajah itu terlihat indah tanpa air mata?

Apakah mata mu tidak perih menahan saraf terus menegang?

bagaimana jika kau nikmati saja purnama itu.

...

Hatimu butuh ruang untuk mengalirkan beku biar terarak menuju aliran.

 

Kemarin aku dengar pada senja kamu meninggi.

Jantungmu berdegup kencang.


Marahkah engkau pada senja?

-

Entah bagaiamana kau seperti itu.

Tatapan sejuk hangat tetiba hanguskan purnama.

 

Dari sini jernih kabar terdengar,

tapi aneh pikiran belum juga bertanya,

bahkan gemah dari hati senyap tanpa warna.

Ruang manjadi hampa.

 

Aku pikir langit bulan November menghapus jejak retak pada bumi.

_ meski lebat tanpa aliran,_

_ ternyata Purnama tanpa terang_

 

 

 

 

 

 


Kamis, 13 November 2025

Sebaris Rasa dari Ayah

 Ping!

Notifikasi di ponselku menyala. Sebuah chat dari Alif.

"Ayah, aku nggak kuat lagi. Uang jajan hilang lagi. Baju olahraga yang barusan Ibu belikan juga raib dari lemari. Aku mau pindah sekolah. Sekarang."

Jari-jemariku mengetik cepat, meski hati berat. Dari balik jendela hotel di Makassar, aku melihat kota yang tak pernah tidur. Pikiranku justru melayang ke anakku yang sedang terpuruk di kamar asrama, ratusan kilometer jauhnya.

"Alif, tenang dulu, Nak. Jangan gegabah. Ayah lagi di Makassar, baru pulang seminggu lagi. Tahan dulu, ya. Fokuskan pikiran untuk persiapan ujian sekolahmu. Urusan pindah atau tidak, kita bicara baik-baik nanti setelah ujian usai. Percayalah pada Ayah, setiap masalah ada jalannya."

Aku menambahkan emoticon pelukan. Tidak ada balasan. Hanya status "read" yang terpampang. Aku tahu, anak sulungku itu sedang berjuang antara marah, kecewa, dan lelah.


***

Dua minggu kemudian, aku akhirnya bisa menjemput mereka. Zaid, si sulung yang paling kalem, langsung mengambil tasnya dan masuk ke mobil. Alif duduk di sampingku, wajahnya masih mendung. Meydina yang duduk di belakang, dengan khasnya, langsung bercerita tentang pertandingan bulu tangkisnya. Patih, si bungsu, asyik sendiri dengan game di ponselnya.

Sesampainya di rumah, setelah istirahat sejenak, kuajak keempat anakku ke bukit di pinggir kota. Saat Zaid, Meydina, dan Patih asyik mengejar kupu-kupu di antara semak, aku duduk di sebelah Alif di atas sebuah batu besar.

"Ayah baca laporan sekolahmu. Nilai-nilaimu tetap bagus, meski sedang banyak masalah. Itu hebat," bukaku.

Dia hanya menghela napas. "Lantas apa artinya, Yah? Prestasi itu nggak membuat bajuku nggak hilang, atau membuat Bu Asma mengambil tindakan."

Aku memungut sebatang ranting kering dan dengan mudah mematahkannya. "Ini seperti semangat yang sudah kering, Nak. Rapuh. Mudah patah oleh masalah."

Lalu aku menunjuk ke batu besar yang kami duduki. "Ini keras, tak tergoyahkan. Tapi apakah ini kuat?"

Meydina yang mendekat, berseru, "Kuat, Yah!"

"Tidak sepenuhnya, Dina," ujarku. "Batu ini hanya diam. Dia tidak bisa bertumbuh."

Kemudian, kubimbing mereka ke sebatang pohon beringin tua. Akarnya mencengkeram kuat pada tebing batu, membelit, mencari celah, sementara dahannya menjulang tinggi dengan penuh kebanggaan.

"Inilah ketangguhan yang sesungguhnya, Anak-anakku," kataku, suara ku mencoba menembus kebisingan di pikiran Alif. "Dia tidak melawan batu dengan mencoba menghancurkannya. Dia menjadikan batu itu sebagai *landasan* untuk berdiri lebih kokoh. Setiap celah adalah kesempatan bagi akarnya untuk mencengkeram lebih dalam. Badai datang, dia mungkin bergoyang, tapi tidak pernah tumbang. Inilah yang disebut *resilience*."

Ayah menatap Alif lekat-lekat. "Kau, Alif, sedang menghadapi 'batu'-mu. Ketidakadilan dan ketidakpedulian adalah kebrutalan duniamu saat ini. Kau bisa patah seperti ranting, atau mengeras dan pahit seperti batu. Atau…," tangannya menepuk-nepuk kulit beringin yang kasar itu, "kau bisa belajar darinya. Masalah ini adalah celah-celah di batu karang hidupmu. Gunakan untuk memperdalam akarmu—akarmu sebagai calon pemimpin, akarmu sebagai pribadi yang tangguh."

"Tapi aku sudah mencoba, Yah. Aku sudah melapor."

"Pertanyaannya, Alif, apakah kamu sudah menggunakan semua 'akar' yang kamu punya? Seorang visioner tidak hanya melihat masalah, tapi melihat *sistem* di balik masalah. Dia tidak hanya mengeluh tentang bajunya yang hilang, tapi membayangkan sistem keamanan asrama yang lebih baik. Kebrutalan seringkali hanya bisa dilawan dengan strategi yang lebih cerdas dan visi yang lebih jernih."

Pulang dari bukit, raut wajah Alif sudah tidak semuram tadi. Aku tahu dia sedang mencerna.

Kembali ke asrama setelah liburan, Alif mengumpulkan para pengurus MPK. Alih-alih berfokus pada hilangnya barang-barangnya, mereka merancang sebuah proposal yang diberi judul "Proyek Ketahanan Asrama". Mereka usulkan sistem laporan online anonim, jadwal piket pengurus MPK untuk patroli lorong, dan petisi untuk peninjauan ulang tata tertib keamanan asrama. Mereka membingkai ini bukan sebagai protes, melainkan sebagai inisiatif positif untuk kebaikan bersama.

Bu Asma terlihat terkejut sekaligus kagum. Kepala Sekolah memberi mereka kesempatan untuk mempresentasikan ide mereka.

Bajunya yang hilang tidak pernah kembali. Tapi sesuatu yang lebih penting telah tumbuh. Sebagian besar proposal mereka disetujui. Suasana asrama perlahan mulai berubah.

Saat kami berbicara setelah ujian, Alif berkata, "Ayah, untuk saat ini aku ingin tetap di sekolah ini."

Aku tersenyum. Masalah dan kebrutalan itu nyata, seperti batu yang keras. Tapi anakku telah memilih untuk tidak menjadi ranting yang patah, atau batu yang diam. Dia memilih untuk menjadi beringin, yang menjadikan setiap batu sebagai pijakan untuk menjulang lebih tinggi. Dan sebagai seorang ayah, tak ada kebanggaan yang lebih besar dari menyaksikan anaknya belajar untuk bertahan, lalu mulai bertumbuh.

Selasa, 11 November 2025

Bukan Tentang Itu

Kantor lantai sembilan itu memiliki pemandangan megah, tapi bagi Jay, pemandangan itu sering kali tertutup oleh kekecewaan. Setiap Senin pagi, ritual yang sama terulang: masuk ke ruang konferensi kecil "Amaryllis" yang seharusnya bersih dan siap pakai, hanya untuk menemukan jejak kekacauan dari akhir pekan.


Hari ini, ada noda kopi mengering seperti danau kering di atas meja mahoni. Remah-remah kue berserakan di karpet, dan aroma parfum murah yang menyengat masih menggantung di udara. Jay menghela napas. Ini sudah kali ketiga bulan ini.


Pelakunya selalu sama: Cleopatra dan tim "khusus"-nya. Cleopatra, bukanlah ratu Mesir, tapi seorang manajer dengan gaun kerja yang selalu necis dan senyum yang terlalu manis untuk diyakini. Jabatannya satu tingkat di atas Jay, cukup untuk membuatnya merasa berkuasa.


Jay bukan pemberani. Tapi nilai-nilai ketertiban dan rasa hormat berteriak dalam jiwanya. Setelah memberanikan diri, dengan hati berdebar-debar, ia mengetuk pintu kantor Cleopatra.


"Cleo, ada waktu sebentar?" tanyanya, mencoba membuat suaranya terdengar santai.


Cleopatra mengangkat alis, senyum manisnya terpasang. "Untukmu, Jay, selalu ada waktu."


Jay menjelaskan, dengan kata-kata yang ia pilih hati-hati, tentang kekhawatirannya akan kebersihan ruang Amaryllis. "Bisa saja, tim Cleo mengingatkan untuk membereskannya setelah pakai? Agar ruangan selalu nyaman untuk kita semua."


Senyum Cleopatra tidak sirna, tapi matanya yang berbinar tiba-tiba menjadi dingin, seperti danau yang membeku dalam sekejap. "Oh, Jay, maafkan kami yang ceroboh. Tim saya memang sangat sibuk dengan proyek prioritas. Tapi pesanmu saya terima. Terima kasih atas *masukannya*." Kata "masukan" itu diucapkan dengan nada yang membuat Jay merasa kecil.


Jay pulang dengan perasaan campur aduk. Pekerjaan baik telah dilakukan, pikirnya.


Keesokan harinya, ia dipanggil ke ruang bos besar, Pak Handoko. Dadanya sesak. Di sana, duduklah Pak Handoko dengan wajah serius, dan di sampingnya, Cleopatra dengan ekspresi prihatin yang sempurna.


"Jay," kata Pak Handoko, "Cleopatra melaporkan bahwa kamu (sepertinya) menunjukkan sikap tidak hormat dan mencoba mengatur cara kerja timnya di ruang meeting. Dia merasa kamu tidak memahami tekanan dan dinamika timnya."


Dunia Jay berputar. Protesnya yang sederhana tentang sekelumit sampah telah dibelokkan menjadi tuduhan tentang ketidakhormatan dan sikap yang tidak kooperatif. Cleopatra, dengan lancar, memutarbalikkan fakta. Dia tidak sekaligus menyebutkan noda kopi atau remah-remah. Yang dia soroti adalah "sikap" Jay.


"Bukan itu maksud saya, Pak," bela Jay, suaranya gemetar. "Saya hanya meminta kebersihan dijaga."


"Tentu, kebersihan itu penting, Jay," ujar Pak Handoko dengan nada menenangkan. "Tapi perhatikan juga cara menyampaikannya. Kita harus bekerja sebagai satu tim."


Pertemuan itu berakhir dengan Jay merasa dipermalukan dan dikalahkan. Cleopatra melemparkan senyum kemenangan yang samar sebelum keluar.


Beberapa hari berlalu. Jay merasa seperti dikucilkan. Semangatnya runtuh. Suatu sore, ketika ia membersihkan meja kerjanya, matanya tertumbuk pada sebuah laporan yang tertinggal di printer—laporan tim Cleopatra. Dan di sana, dengan tinta yang masih segar, tercantum data yang ia tahu persis telah dimanipulasi.


Dia teringat pada jejak kopi di atas meja mahoni. Jejak yang ditinggalkan oleh orang yang begitu teliti menutupi kesalahan besarnya, tetapi begitu ceroboh dengan kesalahan kecil orang lain.


Pada saat itu, amarah di dada Jay mereda, digantikan oleh sebuah pencerahan yang dingin. Cleopatra bukanlah monster yang perkasa. Dia hanya seorang yang takut, takut pada kritik sekecil apa pun karena istananya dibangun dari kertas yang rapuh.


Keesokan paginya, Jay tidak lagi marah. Dia memasuki ruang Amaryllis—yang sekali lagi berantakan—dengan perasaan tenang. Dia membersihkan noda itu sendiri, bukan sebagai tanda menyerah, tapi sebagai pengingat untuk dirinya sendiri.


Dia menyadari, pertempuran yang sesungguhnya bukanlah tentang siapa yang meninggalkan sampah, tetapi tentang siapa yang mampu menjaga integritasnya tetap bersih. Dan suatu hari nanti, istana kertas Cleopatra akan roboh dengan sendirinya. Sampai saat itu tiba, Jay akan terus bekerja, tetap bersih, dan waspada. Perlawanannya bukan lagi dengan protes yang berisiko, tapi dengan ketekunan dan ketidakmungkinan untuk dibungkam secara diam-diam.


Dia akan menunggu. Karena kadang, keheningan dan kesabaran adalah protes yang paling menggema.

Sabtu, 01 November 2025

Entah Siapa yang Hilang

langit senja membara, menyiram warna jingga dan ungu ke atas jalanan yang basah oleh hujan sore. Niza berdiri di bawah kanopi kafe tua itu, tempat di mana segala sesuatu bermula, dan mungkin juga tempat di mana segalanya akan berakhir. Di tangannya, segelas cappuccino hangat sudah berubah dingin, persis seperti rasa di dadanya.

Matanya tertuju pada seorang perempuan di seberang jalan. Rambut hitam sebahu, tubuh ramping terbungkus jas trench coat biru tua. Mila. Lima tahun bukan waktu yang singkat, tapi Niza masih bisa mengenalinya dari jarak seratus meter, dengan rintik hujan sebagai pembatas.

"Mila," desisnya, hampir tak terdengar.

Tapi Mila sudah menyeberang. Langkahnya pasti, mendekati meja di sudut tempat Niza duduk. Senyum tipisnya menghampiri sebelum dirinya sendiri.

"Lama tidak berjumpa, Niza."

Suara itu. Suara yang dulu selalu menjadi pengantar tidurnya, suara yang pernah berbisik, "Aku mencintaimu," dalam kegelapan kamar asrama mereka. Sekarang, terdengar asing, tapi akrab. Seperti lagu lama yang terlupakan, namun nadanya masih melekat di memori.

"Mila," ucap Niza, kali ini lebih lantang. "Aku tidak menyangka kau akan datang."

"Kamu yang mengirim pesan," balas Mila sambil duduk. Matanya, yang dulu selalu berbinar dengan kegembiraan, kini menyimpan kedalaman yang membuat Niza ingin menyelami sekaligus menjauh.

Mereka berdua tenggelam dalam diam yang sesaat, dibelah oleh dering bel kafe dan desisan mesin kopi. Niza mencoba mengumpulkan keberanian untuk pertanyaan yang telah menghantuinya selama bertahun-tahun.

"Kenapa kau pergi, Mil? Tanpa kata, tanpa penjelasan. Seperti menguap begitu saja."

Mila memandangnya lama. "Apakah aku yang pergi, Niza? Atau justru kamu yang mengusirku tanpa sadar?"

Pertanyaan itu menggantung di antara mereka, tajam dan menusuk. Niza teringat pada Rina. Rina dengan tawanya yang renyah, dengan caranya yang sederhana mencintai Niza tanpa syarat. Rina adalah kenyamanan, sementara Mila adalah badai yang selalu dirindukan.

"Kita... kita dulu terlalu muda. Terlalu banyak emosi," jawab Niza akhirnya, menghindari pandangan Mila.

"Bukan tentang muda, Niza. Ini tentang pilihan." Mila mengambil sip dari air mineralnya. "Kamu memilih Rina. Kamu memilih untuk tidak memperjuangkan kita."

Niza menarik napas dalam. Kenangan itu datang beruntun seperti film bisu yang diputar ulang.

*Mereka bertiga dulu bagai segitiga sama sisi. Mila, si seniman liar dengan jiwa bebasnya. Rina, si cendekiawan yang tenang dan penuh perhitungan. Dan Niza, terjebak di antara dua kutub yang sama-sama membuatnya jatuh hati.*

*Tapi segitiga itu retak saat Niza, dalam kebimbangannya, secara tak sengaja membuat Mila merasa seperti pilihan kedua. Saat Niza lebih sering membatalkan janji dengan Mila karena Rina membutuhkannya untuk mengerjakan tugas kuliah. Saat Niza diam ketika Rina dengan halus meremehkan impian Mila menjadi pelukis.*

"Bukan begitu, Mila. Aku... aku hanya bingung."

"Kamu tidak bingung, Niza. Kamu takut," sahut Mila, suaranya lembut tapi tegas. "Kamu takut pada intensitas perasaan kita. Kamu takut pada caraku mencintaimu yang terlalu ‘banyak’ untukmu. Rina aman. Rina tidak menuntutmu untuk terbang terlalu tinggi seperti yang kulakukan."

Perkataan Mila seperti pisau yang menguliti lapisan-lapisan pembenaran yang selama ini Niza bangun. Mungkin benar. Mungkin Niza takut pada api yang Mila bawa, dan memilih kehangatan sederhana dari Rina.

"Dan Rina? Bagaimana dia?" tanya Mila setelah jeda cukup lama.

Niza menghela napas. "Kami putus setahun setelah kau pergi. Hubungan kami... hampa. Seperti dua orang asing yang kebetulan berbagi ruang. Aku sadar, yang kucari darinya adalah bayang-bayangmu."

Senyum getir muncul di bibir Mila. "Ironis, bukan? Kamu memilihnya, tapi justru kepergianku yang membuatmu menyadari bahwa kamu tidak bisa mencintainya."

Hujan di luar mulai reda, meninggalkan tetesan-tetesan air yang jatuh dari ujung kanopi, seperti air mata langit yang tersisa.

"Kenapa kau tidak memberiku kesempatan untuk menjelaskan? Kenapa kau menghilang begitu saja dari hidupku?" tanya Niza, suaranya bergetar.

"Karena, Niza," Mila menatapnya dalam-dalam, matanya berkaca-kaca, "aku harus menyelamatkan sisa-sisa diriku yang hampir kau hancurkan dengan kebimbanganmu. Jika aku tinggal, aku akan terus menunggu kepastian yang tak kunjung datang. Dan itu akan membunuhku perlahan."

Niza diam. Ia memahami sekarang. Bukan Mila yang pergi. Bukan juga kisahnya yang dihapus. Tapi dirinya sendiri, Niza, yang tersesat dalam labirin perasaannya sendiri. Ia begitu sibuk memikirkan siapa yang harus dipilih, sampai lupa bertanya pada hatinya, siapa yang benar-benar ia cintai.

"Sekarang aku mengerti," bisik Niza.

Mila tersenyum, kali ini lebih hangat. "Aku juga."

"Apa... apa kita bisa memulai lagi?" tanya Niza penuh harap.

Mila menggeleng pelan. "Tidak, Niza. Aku sudah bukan lagi Mila yang dulu. Dan kamu juga bukan Niza yang dulu. Kita sudah melewati terlalu banyak hal untuk kembali ke masa lalu. Terkadang, cinta tidak cukup untuk menyatukan dua orang yang sudah tumbuh menjadi diri mereka yang sekarang."

Niza menunduk. Ia tahu Mila benar. Rasanya sakit, tapi anehnya, juga melegakan. Seperti akhirnya menemukan jawaban dari teka-teki yang lama mengganggunya.

Mila berdiri, mengambil tasnya. "Aku harus pergi."

"Ke mana?" tanya Niza, hampir berharap Mila akan mengajaknya ikut.

"Pameran lukisan tunggalku besok. Di galeri seni Merah Putih. Aku akan senang jika kamu datang," ucap Mila. "Tapi sebagai teman."

Niza mengangguk, tak sanggup berkata-kata.

Mila berbalik dan berjalan pergi, meninggalkan Niza sendirian dengan secangkir kopi dingin dan segudang penyesalan. Melalui jendela, Niza melihat Mila menghilang di ujung jalan, menyatu dengan kerumunan orang.

Dan di saat itu, Niza akhirnya mengerti.

Entah siapa yang hilang. Mungkinkah Mila yang telah pergi dari pikirannya? Atau semua kisah Mila telah ia hapus?

Jawabannya adalah bukan.

Yang hilang adalah dirinya sendiri, Niza, yang tersesat dalam bayang-bayang pilihan yang tak pernah benar-benar ia pilih. Dan kini, saat ia menemukan dirinya kembali, Mila sudah terlalu jauh untuk dikejar.

Ia mengambil ponselnya, membuka galeri foto, dan melihat satu-satunya foto yang masih ia simpan: foto dirinya dan Mila, tertawa lepas di pantai, dengan matahari terbenam sebagai latar. Senyum Mila begitu cerah, begitu bebas.

Dia tidak menghapusnya. Dia tidak akan pernah bisa.

Karena Mila bukan kenangan yang harus dihapus. Mila adalah pelajaran yang harus dibawa seumur hidup. Sebuah bab indah dalam buku hidupnya yang sudah tertutup, dengan lembaran-lembaran yang tak akan pernah terbaca lagi, namun akan selalu membuatnya tersenyum dan menangis dalam diam.

Dan untuk pertama kalinya dalam lima tahun, Niza membiarkan air matanya jatuh, merasakan kehilangan itu sepenuhnya, sekaligus merasakan sebuah kedamaian aneh yang akhirnya menyelimuti hatinya yang telah lama terluka.

Rabu, 10 September 2025

Perjalanan Pulang

 


Setiap pagi, sebelum fajar menyingsing, aku sudah membiasakan diri mencium kening istri dan keempat anakku yang masih terlelap. Perjalanan seratus kilometer menanti, ditempuh dengan motor tuaku yang setia namun rakus bensin. Gajiku sebagai guru biasa pas-pasan, habis untuk biaya sekolah anak-anak dan untuk membuat motor ini tetap bernyawa. Sering kali, di sela-sela mengajar atau dalam perjalanan panjang, keroncongan di perut kuganjal dengan segelas air putih. Itu sudah cukup. Asalkan mereka di rumah tersenyum kenyang.


Hari itu seperti biasa. Langit kelabu mengancam sejak pagi, tapi aku harus berangkat. Sepulang mengajar, langit pun pecah. Hujan lebat membasahi bumi, memaksaku untuk singgah berteduh di sebuah warung kecil di pinggir hutan. Setelah hujan mereda, aku melanjutkan perjalanan. Namun, baru sekitar satu kilometer, hujan kembali turun dengan amat deras, disertai petir yang menyambar-nyambar menghasilkan kilatan putih getarkan dada. 


Dengan susah payah, mataku menatap tajam mencari tempat berteduh. Akhirnya, kulihat sebuah pos ronda yang tampak reyok. Belum sempat aku memarkir motorku dengan sempurna, mesinnya mendengkur pelan lalu mati untuk selamanya. Aku mendorongnya dengan tenaga terakhirku hingga masuk ke bawah atap pos ronda yang bocor di beberapa tempat.


Dengan perasaan was-was, kuperiksa tangki bensin. Kosong. Benar-benar kosong. Dadaku sesak. Kucoba mengusir kecemasan dengan membuka dompet. Isinya menyisakan selembar uang dua ribu rupiah yang lusuh. Hatiku hancur. Delapan puluh kilometer lagi! Badan yang basah kuyup mulai menggigil kedinginan. Lapar yang selama ini kupendam datang menyerbu. Aku terduduk lemas di bangku kayu yang basah, menatap hujan yang seakan tak mau berhenti, merasakan betapa kecil dan hinanya diriku.


Tiba-tiba, dari kejauhan, di balik deras hujan yang pekat, terlihat sesosok bayangan. Seorang kakek tua, dengan susah payah menarik gerobak kayu yang penuh buah semangka, berusaha menaiki tanjakan licin. Nafasku tertahan melihatnya. Lalu, *prook!* Suara itu memecah deru hujan. Kakek itu terjatuh, terpeleset di lumpur, dan gerobaknya miring, menjeburkan beberapa buah semangka ke selokan.


Tanpa pikir panjang, aku berlari menembus hujan. "Astaghfirullah, Kek!" seruku sambil membantu sang kakek berdiri. Dengan penuh kesabaran, aku memunguti satu per satu semangka yang berceceran dan mengembalikannya ke gerobak. Kulihat lelah dan kepasrahan di wajahnya yang keriput. "Mari, Kek, saya bantu dorong." Aku mendorong gerobak itu dari belakang dengan sisa tenaga yang kumiliki, hingga akhirnya kami berhasil mencapai puncak tanjakan.


Kakek itu memegangi tanganku erat. "Terima kasih, Nak. Kau baik sekali. Semoga Tuhan membalasmu."


Dia kemudian mengambil beberapa buah semangka dari gerobaknya—delapan buah—dan memaksaku menerimanya. Awalnya aku menolak, tapi bayangan akan rasa lapar dan dingin yang menggigit membuatku akhirnya mengangguk pasrah. "Terima kasih, Kek," kataku lirih, sementara kakek itu melanjutkan perjalanannya dan menghilang di tikungan.


Di bawah pos ronda, dengan tubuh yang semakin menggigil, kuambil satu semangka dan kubelah dengan pisau lipat yang selalu kubawa. Terkejut aku melihatnya. Daging buahnya berwarna kuning keemasan, bukan merah seperti biasa. Kuambil satu suap. Manisnya begitu sempurna, menyegarkan, seolah langsung mengisi setiap ruang kosong di perutku. Kuhabiskan satu buah itu dengan lahap. Untuk pertama kalinya hari itu, aku merasa kenyang. Rasa syukur yang tulus memancar dari dalam hatiku. Pikiranku yang tawar menjadi jernih kembali.


Namun, masalah utamaku belum terpecahkan: bensin habis, uang hanya dua ribu. Matahari sudah mulai condong ke barat. Hujan sudah reda, tapi aku terancam bermalam di sini. Tak ada ponsel, tak ada charger. Aku bersandar pada motorku, putus asa. “Nak, mungkin ayah ‘tak sampai untuk memelukmu”, bisikku dalam hati. 


"Mas, Mas..."


Suara lembut memanggil. Kulihat seorang wanita cantik berdiri di dekatku, menatap semangka-semangka yang tersisa.


"Kenapa, Bu?" tanyaku.


"Semangkanya dijual, Mas? Kelihatan segar sekali," katanya sambil tersenyum.


Hampir saja kuucapkan bahwa itu pemberian dan tidak untuk dijual. Tapi kemudian, seperti dapat wangsit, aku teringat bahwa aku butuh uang untuk bensin.


"Iya, Bu. Mau berapa?"

"Aku mau dua saja, Mas."


Tanpa pikir panjang, kuberi harga. "Dua puluh ribu per buah, Bu." Hatiku berdebar-debar, takut dia menolak.


Wanita itu mengangguk, mengambil dua semangka, dan memberikanku empat puluh ribu rupiah. Rasanya seperti mimpi. Dia pergi dengan senyuman, dan aku memandangi uang itu dengan mata berkaca-kaca.


Tanpa buang waktu, kucari kardus bekas dan dengan potongan spidol, kutulis: "Yuk, Beli Semangka Madu! Manis dan Segar! 25ribu/buah."


Ajaib. Satu per satu mobil berhenti. Para penumpang yang lelah setelah terjebak hujan membeli semangkaku. Dalam waktu singkat, tujuh semangka tersisa laku terjual. Tanganku kini memegang uang seratus tujuh puluh lima ribu rupiah, jumlah yang terasa seperti rezeki nomplok.


Dengan hati yang bergetar bahagia, aku berjalan ke kedai bensin botolon yang berada sekitar tiga ratus meter dari tempatku, membeli bensin dan sedikit makanan. Perjalanan pulang terasa begitu ringan. Motor yang tadinya seperti beban, kini melesat membawaku mendekati rumah.


Sesampai di rumah, istri dan anak-anakku menyambut dengan pelukan hangat. Mereka tak pernah tahu betapa harunya diriku. Aku hanya memeluk mereka lebih erat. Rezeki memang tak pernah datang dari jalan yang disangka-sangka. Kadang, ia datang dari hujan deras, seorang kakek tua, dan tujuh buah semangka kuning yang manis. Malam itu, aku berdoa dengan khusyuk, berterima kasih pada-Nya atas semua pelajaran hari ini: bahwa keikhlasan menolong, sekecil apa pun, akan kembali pada kita dalam bentuk yang tak terduga.

Tunggu Sebulan

Separuh perjalanan, tiba-tiba sesak. Udara malam gerah padahal bukan matahari. Siraman cahaya bulan terasa panas seperti terik siang. Buk...