PATTIRO
DECENG
Karya:
Nasruddin Natsir
(Sebuah
Dongeng dari zaman dahulu kala)
Di
lereng sebuah bukit di Tanah nan subur, hiduplah seorang pemuda bernama Jamalu
bersama ibunya, Indo' Saga . Mereka tinggal di sebuah rumah
panggung sederhana yang atapnya terbuat dari daun rumbia yang sudah mulai
lapuk. Setiap hari Jamalu bekerja serabutan—memikul air dari sungai, menyabit
rumput untuk dijual, menggali ubi di kebun orang—namun pundi-pundinya tetap
kering kerontang.
Yang
paling menyiksa hati Jamalu bukanlah rasa lapar, melainkan iri. Ia iri melihat La Ugi, teman
sekampungnya yang punya kebun kelapa luas dan sawah yang menguning. Ia iri
kepada We Tenri, gadis sebaya yang perhiasan emasnya gemerlap setiap pergi ke
pasar. Ia iri kepada hampir setiap orang yang rumahnya beratap seng atau sirap,
bukan rumbia seperti miliknya.
"Ya
Puang Allah Taala, kenapa aku dilahirkan miskin? Kenapa hidupku begini-begini
saja?" keluhnya suatu senja di tepi sungai, sendirian.
Kegalauan
itu membawanya ke bawah pohon beringin tua—pohon keramat yang oleh warga kampung
dianggap angker. Tanah di sekitarnya gersang, tidak ada burung yang berani
bersarang di dahannya, dan udara di tempat itu terasa lebih dingin dibandingkan
tempat lain.
Jamalu
duduk termenung di pangkal akar pohon itu. Tiba-tiba, angin berputar seperti
pusaran. Dari balik akar-akar pohon yang menjuntai hingga menyentuh tanah,
muncullah seorang kakek. Wajahnya keriput seperti tanah kering di musim
kemarau. Matanya merah samar, seperti bara yang hampir padam. Jari-jarinya
panjang dengan kuku kecoklatan, dan ia memakai baju hitam lusuh. Namun yang
paling mengerikan adalah senyumnya—senyum yang seolah-olah tahu semua rahasia
Jamalu.
Bulu
kuduk Jamalu merinding. Ia ingin lari, tetapi kakinya seperti tertanam ke
tanah.
"Magapa kamu lari? Magapa kamu takut,
wahai anaku muda?" suara kakek itu
berat, seperti batu yang digesekkan satu sama lain. (Mengapa engkau lari? Mengapa engkau takut?)
Jamalu
menggigit bibir. Nafasnya kembang-kempis. Seluruh tubuhnya gemetar hebat.
"Ka...
kamu dari mana muncul tiba-tiba?" ucapnya terbata. "Apa kamu penunggu
pohon beringin keramat ini?"
"Hus... jangan takut," kata kakek itu sambil menyeringai. "Aku melihatmu dari tadi gelisah. Ada apa
denganmu, anaku muda?"
Jamalu
mencoba menenangkan diri, namun suaranya tetap parau seperti katak kehabisan
air.
"Saya
memang gelisah, Kakek. Saya pusing. Hidup saya susah. Saya iri melihat
orang-orang sekeliling saya yang kehidupannya penuh kenikmatan. Mereka bahagia
karena memiliki harta yang banyak!"
Kakek
misterius itu tertawa pecah. Suaranya terbahak-bahak, berat dan menggelegar
seperti guntur jauh di langit.
"Huahahahaha... masalahmu itu masalah
kecil, anaku muda! Masalah yang sangat mudah diselesaikan. Remeh temeh!"
Jamalu
ragu. Namun rasa penasaran dan hasrat akan kekayaan mengalahkan ketakutannya.
Ia mendekat selangkah—masih tegang, masih merinding.
"Kakek
tua renta... lihat dirimu sendiri," kata Jamalu setengah merendahkan.
"Kakek tampak renta dan miskin. Kayaknya tidak punya apa-apa. Masa kakek
bisa membantu saya?"
Seketika
mata kakek itu menyala seperti bara api. Tatapannya tajam menusuk.
"Jangan merendahkan, anak muda. Aku bisa
membantumu... jika kamu mau."
Jamalu
menelan ludahnya yang terasa pahit.
"Apa
yang bisa kakek lakukan untuk saya, jika kakek memang benar-benar bisa membantu
saya?"
Kakek
itu mendesis pelan, seperti ular sanca yang siap menerkam mangsanya.
"Jika kamu mau, datanglah ke gubuk di
pinggir sungai bercabang. Ikuti aliran sungai pinggir pohon beringin ini.
Setengah hari perjalanan, kamu akan sampai di sana. Di gubuk itulah aku
menunggumu."
Sebelum
Jamalu sempat bertanya lebih lanjut, kakek itu lenyap seperti kabut yang
diterpa angin timur. Yang tersisa hanyalah wangi dupa aneh dan dingin yang
menusuk hingga ke sumsum tulang.
Jamalu
pulang ke rumahnya dalam keadaan pucat pasi. Indo' Saga yang sedang menumbuk
cabai di dapur belakang rumah panggung langsung curiga melihat wajah anak
semata wayangnya.
"Nak
Jamalu, kamu pucat sekali. Dari mana saja kamu?" tanya Indo' Saga dengan
logat yang khas.
Jamalu
menceritakan semua yang baru saja dialaminya. Wajah Indo' Saga berubah keras.
Tangannya yang sedang menumbuk cabai berhenti. Ia meletakkan ulekan batu dan
duduk di depan anaknya.
"Nak
Jamalu, dengar baik-baik nasihat indo'mu," kata Indo' Saga dengan suara berat.
"Hati-hati dalam berguru. Jangan mudah percaya kepada orang baru yang baru
kamu kenal, apalagi jika orang itu tiba-tiba bersikap baik kepadamu."
"Tapi,
Ma..." Jamalu mencoba memotong.
"Diam
dulu, Nak, biar indo' selesaikan," potong Indo' Saga tegas. "Sudah
banyak kejadian di kampung Bugis ini. Orang-orang yang tergiur janji kekayaan
dari orang tak dikenal—bukannya menjadi kaya, malah hidupnya sengsara. Karena
salah berguru, ada yang berubah menjadi ngepet . Ada yang menjadi siluman . Ada
yang menjadi parakang seperti yang sering diceritakan para orang tua
terdahulu kampung kita. Bahkan ada yang sampai menjadikan keluarganya sendiri
sebagai tumbal. Jangan, Nak. Harta bukanlah ukuran bahagia. Semakin engkau
bersyukur kepada Puang Allah Taala, semakin engkau bahagia. Jangan iri pada
kehidupan orang lain!"
Jamalu
hanya terdiam. Ia menunduk, tidak berani membantah. Namun dalam hatinya, bara
iri itu belum padam. Malah semakin membara.
Keesokan
paginya, sebelum matahari terbit dari ufuk timur, Jamalu pergi tanpa pamit
kepada ibunya. Ia kembali ke bawah pohon beringin keramat itu, lalu menyusuri
sungai di sampingnya. Air sungai itu keruh dan dingin, dedaunan di tepinya
tampak layu meskipun saat itu bukan musim kemarau.
Setengah
hari perjalanan ia tempuh dengan berjalan kaki menembus semak belukar dan hutan
bambu. Akhirnya tibalah ia di percabangan sungai. Di tepi percabangan itu,
berdiri sebuah gubuk bambu yang sudah reot. Tidak ada jendela, beratap daun
kelapa yang sudah hitam dan berlubang-lubang. Gubuk itu tampak angker dan
menyendiri di tengah hutan yang lebat.
Jamalu
mendekati gubuk itu dengan langkah gontai. Belum sempat tangannya mengetuk
pintu kayu yang sudah lapuk, suara dari dalam membuat bulu kuduknya berdiri.
"Masuklah, anaku muda... jangan takut.
Sudah takdirmu sampai di sini. Aku sudah lama menunggumu."
Jamalu
menarik napas panjang, lalu mendorong pintu gubuk itu. Di dalam, gubuk itu
gelap, hanya diterangi satu lampu pelita yang menyala redup. Kakek misterius
itu duduk bersila di atas tikar anyaman pandan yang sudah usang. Matanya
berbinar senang, seolah baru saja memenangkan sesuatu yang sangat berharga.
Kakek
itu menunjuk ke sebuah bilik kecil di sudut ruangan.
"Masuk ke dalam bilik itu," perintahnya.
"Mengapa
saya harus masuk ke bilik itu, Kakek?" tanya Jamalu dengan suara setengah
bergetar.
Kakek
itu tersenyum, namun matanya tetap dingin dan tidak ikut tersenyum.
"Kesepakatan hari ini adalah: kamu harus
melakukan apa yang aku perintahkan. Jangan pernah menolak. Jangan pernah
bertanya. Kamu sudah tidak bisa mundur lagi."
Jamalu
ragu-ragu. Namun kakinya seperti didorong oleh angin gaib. Ia masuk ke dalam
bilik kecil itu.
Begitu
masuk ke dalam bilik, Jamalu terkejut setengah mati. Di lantai tanah yang
lembap, terhampar berbagai macam kembang setaman: mawar merah, kenanga, kantil,
melati putih, dan sedap malam. Di tengah-tengah rangkaian kembang itu, terdapat
nasi ketan tujuh warna tersusun rapih dalam tapis anyaman.
"Duduklah di antara kembang dan ketan
itu," perintah kakek dari balik
dinding bilik. "Pejamkan matamu.
Jangan bergerak. Nanti aku beri instruksi."
Kakek
itu mendesis tertawa pelan.
"Ssst... jangan banyak gerak, anaku muda."
Jamalu
mendengar suara korek api digoreskan. Lalu bau dupa yang menusuk hidung mulai
menyesak masuk ke rongga hidungnya. Asap mengepul keluar dari celah-celah
dinding bambu. Kakek itu mulai duduk bersimpuh dan membaca mantera-mantera
dengan suara parau sambil menaburkan bunga ke atas dupa yang penuh asap.
Suasana
menjadi sunyi begitu pekat. Hening. Senyap. Hingga Jamalu hanya bisa mendengar
detak jantungnya sendiri yang berdebar kencang.
Tiba-tiba,
dari balik dinding kamar tempatnya duduk, terdengar suara lain. Bukan suara
kakek tua itu. Suara itu serak dan berat, seolah keluar dari dalam tanah.
"Wahai anaku muda... bukalah
matamu."
Jamalu
mengerjapkan mata.
"Iya,
Kakek, saya sudah membuka mata saya. Apa yang selanjutnya harus saya
lakukan?" tanyanya.
"Tatap dinding depanmu. Apa yang kamu
lihat? Ceritakan!" perintah suara
itu.
"Saya
hanya melihat dinding kamar yang usang, Kakek. Tidak ada apa-apa," jawab
Jamalu polos.
Kakek
itu tertawa kecil. Namun tawa itu terdengar dingin dan menyebalkan.
"Pejamkan kembali matamu. Dan ikuti
mantera ku."
Kemudian
kakek itu membaca mantera pelan dalam bahasa Bugis kuno, dan Jamalu
mengikutinya kata demi kata:
"Kita
pakkitakku, sitarru lattu ati,
sitarru
bulawang na salaka,
sugi sugi polemaki mai ku karipiko..."
Tubuh
Jamalu bergetar hebat. Dadanya sesak. Ia merasakan sesuatu yang dingin merayap
masuk ke ubun-ubun kepalanya, menjalar ke seluruh tubuh, lalu bersarang di
dalam dadanya.
"Jamalu... sekarang buka matamu. Apa yang
engkau lihat?" desak suara itu.
Jamalu
membuka matanya perlahan. Tiba-tiba ia menjerit kecil.
"Ka...
Kakek! Saya bisa melihatmu! Saya bisa menembus dinding ini!"
Kakek
itu tertawa puas. Namun Jamalu belum selesai.
"Apa
lagi yang kau lihat?" tanya kakek cepat.
"Sa...
saya bisa melihat jantung dan hatimu, Kakek tua!" suara Jamalu bergetar
hebat. "Jantungmu... hitam seperti arang! Dan di dalam hatimu... ada
puluhan wajah yang menjerit! Wajah-wajah yang ketakutan!"
Saat
itulah kakek tua itu pecah tertawa. Ia tertawa puas, puas sekali.
"Huahahahaha... manteramu telah menyatu
dengan dirimu, wahai Jamalu! Sekarang tunggulah... kekayaan akan menghampirimu.
Kamu akan menjadi sangat kaya raya. Tidak lama lagi!"
Jamalu
pulang ke rumahnya dengan perasaan campur aduk—antara takut, senang, dan
penasaran. Ia tidak menceritakan detail ritual itu kepada Indo' Saga. Ia hanya
diam.
Setahun
berlalu. Kehidupan Jamalu berubah drastis. Tiba-tiba ia memiliki uang
berlimpah. Sawah, kebun kelapa, kerbau, emas, perhiasan yang indah, semua ada.
Bahkan ia mampu memperbaiki rumah panggung ibunya menjadi rumah kayu ulin yang
kokoh. Indo' Saga heran dan bertanya berkali-kali, namun Jamalu selalu
mengelak.
"Syukur
saja, Ma. Jamalu sedang beruntung. Rezeki datang dari mana-mana," jawabnya
selalu begitu.
Namun
ada yang aneh dari diri Jamalu. Setiap malam purnama, ia tidak bisa tidur.
Matanya berubah merah menyala seperti bara. Air liurnya sering meleleh tanpa
disadari hingga membasahi bajunya. Ia lebih suka menyendiri dan baunya... baunya
menjadi anyir seperti darah.
Indo'
Saga semakin hari semakin khawatir. Hatinya tidak tenang. Setiap malam ia
membakar kemenyan sambil berdoa kepada Puang Allah Taala.
Suatu
malam, di awal bulan purnama, Jamalu yang sedang duduk di beranda rumah mencium
bau yang sangat harum. Wangi nangka masak. Wangi yang sangat mengundang selera.
Wangi yang membuat lidahnya bergoyang dan air liurnya mengucur deras hingga
membasahi bajunya.
Jamalu
berjalan terpana. Kaki-kakinya melangkah cepat tanpa arah yang jelas. Ia
melewati kebun, melewati kuburan tua kampung, melewati semak belukar, sampai
akhirnya ia tiba di depan sebuah rumah panggung kayu. Di bawah rumah itu—tepat
di kolong—ada sesuatu yang harum sekali.
Jamalu
merangkak masuk ke kolong rumah itu. Matanya merah menyala. Air liurnya terus
menetes ke tanah. Ia menggapai-gapai di dalam gelap, mencari sumber wangi yang
sangat ia dambakan.
Tiba-tiba...
"TOLOOOOOONG!"
Teriakan
seorang perempuan memecah sunyi malam Bugis yang dingin.
"TOLONG! TOLONG! ADA MATA MERAH! ADA
PARAKANG! DIA MAU MENculik ANAKKU!"
Warga
kampung yang mendengar teriakan itu berhamburan keluar dari rumah
masing-masing. Mereka membawa obor dari batok kelapa, parang, dan tombak bambu.
Seorang ibu muda bernama Sappe berdiri di teras rumah panggungnya
sambil menggendong bayinya yang menangis histeris. Seluruh tubuhnya gemetar
hebat. Wajahnya pucat seperti kapas.
"Ada
apa, Sappe?" tanya seorang tetua kampung.
"Ada
parakang, Puang!" jawab Sappe terisak-isak. "Dia ada di bawah
rumah saya! Saya melihat matanya merah menyala! Dia mengendus-endus bayi
saya!"
Seketika
warga mengepung rumah panggung itu. Mereka memeriksa kolong rumah dengan obor
dan parang terhunus dan
di bawah sana, mereka menemukan Jamalu.
Matanya
merah menyala. Air liurnya membasahi seluruh dada dan bajunya yang kumal. Ia
menggerak-gerakkan tangannya seperti sedang meraba sesuatu.
"Itu...
itu parakang!" teriak salah seorang warga.
"Bukan!
Saya bukan parakang!" Jamalu berteriak ketakutan. "Magapa kamu kasa
padaku?!" (Mengapa kalian
menuduhku?)
Namun
warga tidak peduli. Mereka menarik Jamalu keluar dari kolong rumah dan
mengikatnya dengan tali yang dibuat dari akar kayu Baluttete.
"Kenapa
kalian mengikat saya?! Lepaskan! Ada apa ini?!" Jamalu meronta-ronta.
"Kamu
parakang, Jamalu!" teriak seorang warga.
"Saya
bukan parakang!"
"Matamu
merah! Liurmu meleleh membasahi badanmu! Kenapa kamu bisa berada di kolong
rumah Sappe jam segini malam?!" tanya warga
lainnya siap dengan parangnya.
Jamalu
menggigil. "Saya... saya hanya ingin mengambil nangka masak itu! Aromanya
wangi sekali! Sangat menggugah selera makan!"
Semua
warga yang mendengar perkataan Jamalu terdiam seketika. Suasana menjadi sunyi
senyap. Hanya suara jangkrik dan detak jantung mereka yang terdengar.
Kemudian
seorang tetua kampung—La Patau—berbicara dengan suara lirih namun tegas.
"Jamalu...
di rumah Sappe tidak ada pohon nangka. Yang ada...
bayinya yang perempuan, yang baru saja dilahirkan tiga hari yang lalu."
Wajah
Jamalu berubah biru. Ia terdiam. Air liurnya berhenti menetes. Matanya yang
merah perlahan-lahan berubah menjadi sayu dan penuh ketakutan.
"Itu
bukan nangka, Jamalu," lanjut Puang Pajaga. "Itu bayi manusia. Karena
engkau salah berguru... engkau sudah berubah menjadi parakang ."
"Tidak...
tidak mungkin..." bisik Jamalu lirih.
"Sudah
banyak kejadian seperti ini di kampung kita," kata Puang Pajaga menghela
napas. "Dulu ada pemuda yang serakah dan berguru kepada jin jahanam.
Akhirnya ia jadi babi ngepet . Ada pula
yang jadi parakang sepertimu sekarang. Mereka yang sudah terjebak
pesugihan sesat, tidak bisa lagi hidup normal. Mereka akan terus lapar... tidak
lapar nasi, tetapi lapar terhadap bayi yang baru dilahirkan."
Jamalu
lemas. Ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Air matanya mengalir membasahi
pipinya yang kotor.
Malam
itu juga, warga kampung memutuskan untuk menghukum Jamalu. Mereka tidak tega
membunuhnya karena ia masih manusia, tapi mereka juga tidak bisa membiarkannya
tinggal di kampung. Mereka memberinya bekal sedikit, sepotong kain sarung, dan
menyuruhnya pergi ke hutan, jauh dari permukiman.
Di
kejauhan, Indo' Saga—ibunda Jamalu—menangis sejadi-jadinya di depan pintu rumah
panggungnya. Ia tidak ikut mengepung, karena hatinya terlalu hancur. Ia hanya
duduk di lantai sambil memegang sesajen dan kemenyan yang sudah siap ia bakar.
"Jamalu...
anakku sayang..." isaknya tertahan. "Indo' sudah bilang... hati-hati
dalam mencari guru... tapi engkau tetap pergi... oh, Puang Allah Taala,
ampunilah anakku..."
Jamalu,
yang mendengar isak tangis ibunya dari kejauhan, berhenti melangkah. Ia ingin
berlari kembali, ingin memeluk Indo' Saga, tapi kakinya seperti tertahan oleh
rasa malu yang begitu besar.
"Aku
akan membuat perhitungan dengan kakek peot itu," desis Jamalu dalam hati.
"Dia yang telah membohongiku. Dia yang telah menjerumuskanku."
Ia
pun berbalik dan berjalan cepat menuju gubuk di tepi sungai bercabang. Namun
sesampainya di sana, Jamalu terkejut. Gubuk itu sudah tidak ada. Yang tersisa
hanya tumpukan bambu lapuk dan daun kelapa kering yang berserakan di tanah.
Di
tengah tumpukan itu, Jamalu menemukan sebuah tengkorak manusia. Tengkorak tua
dengan keriput seperti tanah kering—sama seperti wajah kakek yang dulu
menemuinya.
Jamalu
menjerit histeris. Ia baru sadar bahwa dirinya hanyalah tumbal dari sekian
banyak korban pesugihan sesat. Kakek tua itu bukanlah manusia. Ia adalah jin jahanam yang telah ribuan tahun memangsa orang-orang
serakah di Tanah ini.
Dengan
hati remuk redam, Jamalu berjalan meninggalkan kampung halamannya untuk
selama-lamanya. Ia pergi ke tengah hutan, menjauhi manusia, dan tidak pernah
kembali lagi. Warga kampung kadang masih mendengar suara tangisan di malam
purnama, berasal dari arah sungai bercabang. Mereka percaya itu adalah suara
Jamalu yang selamanya tersesat akibat keserakahannya.
Ibu
tua Indo' Saga tinggal sendirian di rumah panggungnya. Setiap malam ia membakar
kemenyan dan berdoa kepada Puang Allah Taala agar dosa anaknya diampuni. Dan
setiap kali ada pemuda Bugis yang mengeluh tentang kemiskinannya, Indo' Saga
selalu berpesan dengan air mata:
"Anakku, jangan pernah menjual
jiwamu hanya untuk harta. Harta bisa dicari, tapi jiwa yang rusak tidak akan
pernah bisa disembuhkan selamanya. Ingatlah pepatah Bugis kita: 'Rekko taro ada
taro tongeng, rekko taro gau' taro lempuk'—jika berkata, katakan yang benar,
jika berbuat, buatlah yang lurus. Jangan engkau mengambil jalan pintas yang
berliku-liku gelap, karena di ujungnya hanya ada neraka."
Tamat.
---
Pesan moral:
Anakku dari Tanah Bugis yang pemberani,
janganlah engkau iri pada kehidupan orang lain. Bersyukurlah atas apa yang kau
miliki, karena syukur adalah pangkal kekayaan yang sejati. Ingatlah, tidak ada
kekayaan yang pantas dibeli dengan nyawa, kehormatan, dan keselamatan
keluargamu. Jika ada orang yang menjanjikan harta dengan jalan pintas yang aneh
dan menyeramkan, jauhilah ia segera, karena di balik senyumnya mungkin bersembunyi
parakang yang siap menjadikanmu tumbal.